Wednesday, July 1, 2015

Review: Belenggu Masa Lalu (A Rogue in Texas) oleh Lorraine Heath


Judul: Belenggu Masa Lalu 
Judul Asli : A Rogue in Texas
Seri: Rogues in Texas #1
Pengarang: Lorraine Heath
Alih bahasa : Arum Titisari
Editor : Jantje
Jumlah halaman :  412 halaman
Tanggal Terbit : 5 September 2012 (terbitan pertama 1999)
Penerbit: Dastan Books 
ISBN : 139786022470243
Bahasa : Indonesia


Abigail Westland adalah seorang wanita yang sederhana sekaligus mandiri serta tangguh. Setelah suaminya gugur dalam perang, Abigail harus bekerja keras di perkebunan kapas miliknya bersama ketiga anaknya yang masih kecil.

Grayson Rhodes pergi ke Texas untuk mencoba peruntungannya demi menjadi tuan tanah dan mendapatkan rasa hormat yang tak pernah didapatkannya karena terlahir sebagai anak haram seorang duke. Di negeri asalnya, Inggris, ia terkenal sebagai pria bereputasi buruk, penggoda wanita-wanita yang sudah menikah, namun tak pernah merasakan cinta dan dicintai seumur hidupnya. Ia tak menyangka di negeri baru yang sepanas neraka ini, ia harus bekerja keras di ladang kapas seorang janda mungil yang pemberang dan keras kepala yang mampu menembus hatinya. Kepolosan dan kasih sayang yang dimiliki Abigail perlahan mampu meluluhkan Grayson. Sementara itu, Abigail belum pernah bertemu dengan pria yang mampu membuatnya tertawa dan melupakan beban hidupnya meskipun hanya untuk sementara. 

Apakah ambisi Grayson mendapatkan tanah akan membuatnya memilih harta dibandingkan cinta? Akankah cinta mereka akan merekah di tengah beratnya beban hidup yang mengimpit mereka? Apakah masih ada kebahagiaan untuk mereka di tengah kerasnya perjuangan hidup?

OPINI SAYA

SPOILER ALERT! AWAS SPOILER! 
Saya bakal munculin sebagian spoiler karena ini yang jadi alasan kenapa saya kasih rating sekian.

Setelah sekian lama tidak menyentuh novel sama sekali, akhirnya beberapa waktu lalu saya mulai menjamah salah satu novel terjemahan yang tergeletak di dekat meja. Saya mulai di awal Juni, sempat putus sambung lantaran nggak terlalu semangat baca, tapi 2-3 hari belakangan memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Karena lagi puasa, bagian-bagian yang ‘uhuk-ehem’ dibaca sepintas kayak baca teori di buku aja. Nggak pake nancep di otak, Cuma numpang lewat mata aja. XD

Anyway, saya suka dengan sebagian buku-bukunya Lorraine Heath. Saya cukup menikmati membaca buku ini, terlepas dari semangat baca yang sedang meredup. Ide pria-pria Inggris kalangan bangsawan yang brengsek dan dikirim ke Amerika untuk memulai hidup dari nol dan menjadi tuan tanah cukup seru. Nggak kebayang mereka yang nggak biasa kerja keras di ladang dan biasa pake baju sutra tiba-tiba harus menjalani hidup sebagai pekerja kasar. Ngebayanginnya kerja seharian dari matahari belum terbit, panas-panasan, kerja kasar, dan harus menjalani itu seumur hidup bikin saya ngebayangin betapa lelah dan pegelnya, dan bersyukur bahwa kerja keras saya nggak harus seperti itu.

Saya nggak keberatan bahwa si tokoh perempuan adalah janda dengan tiga anak. Why not? Yang bikin agak males adalah dengan cepatnya mereka tertarik satu sama lain. Hehehe... dan yang bikin lebih males adalah munculnya John, suaminya Abbie yang dipikir orang-orang udah mati di medan perang. Yes, of course dia dibuat sedemikian rupa supaya agak nyebelin, supaya pembaca bersimpati sama Abbie. Emang sih, ngebayangin hidup yang harus dijalaninya bikin saya mikir, “Haduh, kalo itu gue, kayaknya nggak bakalan deh bisa bertahan dan tetap waras.” Tapi saya malah justru bersimpati dan kasihan ama John. Apalagi dia menunjukkan perubahan dan melakukan hal yang menurut saya adalah bentuk tanggungjawabnya, terlepas dari kenyataan dia nggak sekeren, se-gentleman, seromantis Grayson. Bukan salah dia juga kalo nggak bisa sepenuhnya bersikap seperti John. 

Endingnya sih udah bisa ketebak, Abbie tetep sama Grayson. Dan John? Nah, bagian ini silakan baca sendiri. Yang jelas saya penasaran ama ceritanya Harry dan Kit, dua teman Grayson yang juga ikut berangkat ke Texas, meninggalkan kehidupan mereka di Inggris. Buku berikutnya adalah tentang Harry dan Jesse, cewek tangguh yang sejak kecil hidup di bar yang dimiliki ayahnya. ^^

RATING:




Monday, March 23, 2015

Review: Croissant oleh Josephine Winda

Croissant by Josephine Winda
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tebal: 208 halaman
Format: Paperback
Terbit: Oktober 2014

SINOPSIS:
Ditemani santainya kepulan asap teh saat senja.
Sepotong croissant renyah mencecap rasa.
Berlapis seperti kisah kehidupan yang tak kunjung habis.
Diwakili sepuluh cerita dunia.
Semoga tak lekas ucapkan bon voyage—selamat tinggal.
Hanya maklumi.
c’est la vie—itulah hidup.


“… kemahiran memadu judul-judul yang funky, bahasa yang light, dan pilihan tema tentang hidup yang muda dengan segala romantismenya, menjadikan kumpulan cerita buku ini seolah teman yang akan menemani kita melepas lelah.” 
Sannie B. Kuncoro, penulis novel “Garis Perempuan”, “Ma Yan”, “Memilikimu”

“… mungkin berlebihan untuk mengatakan saya tersihir oleh tulisan Winda. Tetapi, pasti saya menikmati setiap kata, kalimat, dan keseluruhan ceritanya seperti ketika SD saya menikmati cerita ibu guru saya. Saya bukan sekadar menunggu ending, tetapi juga menikmati bagaimana cerita berproses.” 
Her Suharyanto, pegiat dunia perbukuan dan penulisan.



Review
--------------------------------------------

Membaca dan menyusun kalimat untuk review buku ini membuat perasaan saya naik turun. Saya merasa beruntung bisa kebagian mereview buku ini karena saya termasuk pecinta antologi/kumpulan cerita. Tapi dari semua buku antologi yang sudah saya baca, agak sulit menemukan kumpulan cerita dalam satu buku yang semuanya bisa saya nikmati. Termasuk buku ini.
Dari judul, ilustrasi sampul dan tulisan singkat di belakang buku ini, saya setengah berharap akan menikmati sedikit suasana negara Perancis, menara Eiffel dan berbagai makanan enak khas Perancis, terutama Croissant. Kalau teman-teman juga seperti saya, bersiap-siaplah untuk kecewa. Satu-satunya yang masih ada nuansa Perancis-nya adalah judul setiap cerita, yang masing-masing adalah sebagai berikut:
  1. Déjà Vu.
  2. Bon Appétit. 
  3. Vis-à-Vis. 
  4. Mademoiselle. 
  5. Touché. 
  6. Rendezvous. 
  7. Je t'aime.
  8. C’est la vie. 
  9. Voilà.
  10. Bon Voyage. 
Buat yang suka happy ending (seperti saya), mungkin buku ini kurang cocok buat mereka. Bukan berarti semuanya sad ending atau menggantung, ada kok yang happy ending (lagi-lagi, meskipun ending-nya kurang sesuai sama harapan saya. :D), misalnya Touché. Agak nggak nyangka, tapi seru! Déjà Vu, Bon Appétit dan Bon Voyage adalah judul lain yang saya suka sekaligus nggak suka. Saya malah sempet ilfil and mikir, "Duh, males banget kalo semua kayak begini" ketika membaca Déjà Vu. Tapi siapa sangka endingnya justru bikin saya angkat alis nggak nyangka. Seperti yang saya bilang, rasanya naik turun. Suka dan nggak suka. Bikin saya meringis, rolling eyes tapi juga tertarik dan kagum sama ide ceritanya. 

Hal lain yang agak mengganggu saya di awal ketika baca buku ini adalah bahasanya. Bukan, bukan salahnya si penulis. Tapi karena udah berbulan-bulan ini saya selalu baca roman, buku anak-anak dan self-help (English dan Indonesia) yang (jelas) bentuk bahasanya berbeda. Butuh lebih dari dua judul untuk membuat saya cukup nyaman dan terbiasa dengan bahasa seperti yang digunakan buku ini. Sebetulnya kalimatnya sederhana, singkat, mudah dipahami dan terbilang indah. Tapi ya itu tadi, buat saya pribadi saat itu, ada kalimat-kalimat yang rasanya terlalu indah atau agak baku. Misalnya nih di bagian Bon Voyage. Kalimat langsung yang dikemukakan si anak rasanya kok terlalu berat ya? Dan bukan saya aja yang mikir gitu, tapi ibu saya juga. Mungkin juga ya karena beliau juga banyak membaca buku-buku roman yang sama dengan saya. Hihihihihi... Meski agak kurang nyaman dengan bahasanya, cara penyajiannya sangat mengalir dan ringan untuk diikuti.

Akhir kata:

Plus Plus Plus +++
Saya cukup menikmati membaca buku ini, lancar jaya nggak pake istirahat atau males-malesan (eh, sempet ding di judul pertama, tapi saya sukses memaksa diri untuk meneruskan baca, terutama karena pas di kereta jadi sambil mengisi waktu). Terlepas dari rasa nggak nyaman yang muncul, menurut saya ide di setiap judul sangat menarik. Ringan, sederhana, dikemas dengan rapi. 

Tapi, oh, tapi... 
Harus saya akui ini bukan jenis buku yang membuat saya jadi berbinar-binar antusias, berlama-lama biar nggak cepet abis, juga bukan jenis buku yang akan saya baca lagi di kemudian hari (mungkin akan saya buka kalo butuh rujukan. :D).

Saran:
Coba aja baca. Saya yakin ada orang-orang yang justru akan suka banget sama buku ini. Toh selera orang berbeda, dan ada sejumlah unsur subyektif di review saya dikarenakan situasi dan kondisi.


Thursday, March 5, 2015

Pemenang Giveaway A Very Late 3 Year Blogiversary

Haloooo...
Beberapa waktu lalu bikin giveaway blogiversary sambil ngajakin teman-teman yang pengen bagi-bagi buku. Senang sekali melihat antusias teman-teman yang ikutan giveaway ini. Sayangnya masih ada beberapa orang yang kurang memenuhi syarat, entah karena masih belum terlalu ngeh, atau pas koneksi internetnya lagi agak error (kadang saya suka gitu, udah klik follow dan terlihat button following, tapi pas direfresh, masih belum follow). Mudah-mudahan next time tidak terjadi lagi.
Dan maaaaaaaf banget, baru sempat mengumumkan nama pemenangnya. Berikut nama mereka yang beruntung:

  1. Imel Cullen (@imellicious)
  2. Widiani (@wiiidiani)
  3. Yuni Tisna Kumala Sari (@yunitisna)
  4. Larissa Rosalina (@fairish_girl)
  5. Biondy Alfian
  6. Oky (@okeyzz)

*Ada dua paket buku yang terpilih tapi entries-nya tidak memenuhi syarat. Buat next giveaway saja yaaa...

Selamat buat para pemenang yang beruntung. Semoga bukunya bermanfaat ya. Bagi yang belum kebagian rezeki, jangan berkecil hati, Mudah-mudahan hoki di giveaway berikutnya yaaa (saya doakan juga hoki di giveaway lainnya). Aamiin....
Mohon maaf bila terdapat kekurangan di sana dan di sini dan besar harapan kami agar teman-teman tidak men-unfollow akun-akun yang sudah difollow (meskipun itu adalah hak teman-teman. ^^). Hehehehe....

Untuk para pemenang, silakan membalas email yang sudah saya kirimkan dalam waktu 72 jam dengan nama lengkap, alamat lengkap dan no hape ya. Kalau nggak ada respon, saya akan memilih nama lain untuk menggantikan Anda.
Mohon beri waktu sekitar 2 minggu untuk proses pengiriman hadiah terhitung sejak Anda merespon karena hadiahnya menyebar di beberapa kota di Indonesia. ^^

Sampai ketemu di giveaway berikutnyaaaaa....


Tuesday, February 3, 2015

A Very Late 3 Year Blogiversary + Giveaway (Indonesia Only)

Not from Indonesia? Click here for international giveaway.


Halo, semuanyaaaaa....
Sudah lama sekali saya tidak menulis sesuatu di blog ini. Terbengkalai seperti halnya blog saya yang lain (Buku-Buku Didi). Nggak punya alasan apapun selain malas dan tidak termotivasi. Pas bulan Desember, pengen ngadain giveaway buat ultah blog yang ke-3, tapi ya itu, malas masih menyerang.
Tapi berhubung sudah masuk tahun baru, sudah masuk umur baru, saya bikin resolusi harus lebih produktif. Terus kebetulan ada temen-temen yang (nggak punya blog, tapi) pengen bagi-bagi buku. Ya udah deh, kita bikin giveaway keroyokan aja. 
Berikut adalah paket hadiah yang ditawarkan:

Hadiah 1
Hot Knits dan My Style, My Place 
(kondisi buku seken/used books, bahasa Inggris)

Hadiah 2
4 buku dari Charlaine Harris:
Charlaine Harris - Dead to the World
Charlaine Harris - Dead and Gone
Charlaine Harris - Club Dead
Charlaine Harris - All Together Dead. 
(Bahasa Inggris)

Hadiah 3
Bisnis Tanpa Tapi
Bisnis Tanpa Tapi: Enggak Pakai Nanti 

Hadiah 4
Playground Love
Her Instinct
(komik dewasa)

Hadiah 5
3 Novel roman seken:
Linda Francis Lee - Suddenly Sexy
Linda Francis Lee - Sinfully Sexy
Alex Archer - Rogue Angel
(Kondisi buku seken, bahasa Inggris)


Hadiah 6
Monica Murphy - Second Chance Boyfriend 
(Bahasa Inggris)
 

Hadiah 7
3 novel roman (kondisi buku seken, bahasa Inggris):
Lori Foster - Causing Havoc
Hannah Howell - Highland Fire
Luanne Rice - Sandcastles


Hadiah 8
2 novel roman terjemahan
Carol Marinelli - Jalinan Rahasia
Abby Green - Bayangan Rasa Bersalah
*ditambahkan tanggal 8 Februari


Berminat? Silakan isi rafflecopter di bawah ini. Kalau belum muncul, mohon ditunggu atau gunakan browser yang lain. Masih bingung dengan Rafflecopter? Baca di sini. Mau bertanya di kolom komentar juga boleh.
Good luck!


a Rafflecopter giveaway

Notes
  1. Pemenang akan diumumkan di sini atau via Twitter atau via email. Apabila pemenang tidak melakukan konfirmasi dalam batas waktu yang telah ditentukan, maka akan dipilih pemenang baru. 
  2. Hadiah akan dikirim dari masing-masing penyumbang hadiah dalam waktu 2 minggu setelah pemenang melakukan konfirmasi.
  3. Kami tidak bertanggungjawab atas ketertundaan, kerusakan atau kehilangan paket setelah paket berada di tangan jasa pengiriman. Usahakan beri alamat yang lengkap (jalan, rt/rw, kelurahan, kecamatan, kabupaten, kota, kode pos dan nomor tlp yang dihubungi, selengkap mungkin).

Friday, August 29, 2014

Review : Sang Kesakitan (The Darkest Pleasure) - Gena Showalter

Sang Kesakitan (The Darkest Pleasure) 
(Lords of the Underworld #3)
oleh Gena Showalter

Paperback, 463 halaman
Dipublikasikan tahun 2011 oleh Violet Books (first published January 1st 2008)
Judul Asli : The Darkest Pleasure
ISBN : 139789790816060

Ia bisa menanggung kesakitan sehebat apa pun, kecuali takut kehilangan gadisnya.

Reyes adalah seorang pria yang dirasuki. Terikat oleh Iblis Kesakitan, kenikmatan adalah hal yang terlarang baginya. Sampai ia mendambakan seorang perempuan manusia, Danika Ford, melebihi kebutuhannya untuk bernapas dan akan melakukan apa pun untuk memilikinya-meski harus menantang para dewa.

Danika sedang dalam pelarian. Selama sebulan ia menghindar dari para Penguasa Dunia Kematian, kesatria abadi yang tak akan berhenti mengejarnya hingga dirinya dan seluruh keluarganya dimusnahkan. Tapi mimpi-mimpinya selalui dihantui oleh Reyes, kesatria yang sentuhan membaranya tak bisa dilupakan. Namun, kebersamaan mereka di masa depan berarti kematian bagi orang-orang yang mereka berdua sayangi.


OPINI SAYA:

Akhirnya.... saya melanjutkan kembali membaca seri LOTU dan kali ini gilirannya Reyes.
The great thing about book in series adalah dari satu buku, pembaca sudah dikasih petunjuk dengan siapa si anu (temannya si tokoh utama) akan berpasangan di buku-buku berikutnya. Nggak serunya, ya udah ketahuan. Apalagi kalau bacanya beberapa tahun setelah buku tersebut diterbitkan. Kita tinggal mengintip sinopsis buku-buku lanjutannya di Goodreads.

Membaca buku ini bikin saya (agak) merasa ngilu. Saya pembaca yang lambat, karena saya sering berusaha membayangkan apa yang digambarkan oleh penulis. Nah, jeleknya, ketika tiba di bagian bagaimana Reyes melukai dirinya, mulai dari menorehkan, menusuk, mengcungkil, memutar pisau di daging de el el, saya langsung berasa nyeri ngilu-ngilu gimanaaaaa gitu. Saya tahan melihat darah, tapi saya nggak tahan melihat luka berat (yang sampe dagingnya (atau yang lebih buruk, tulangnya) keliatan gitu. Hadeeeeh... saya ngetik ini aja langsung ngilu. Saya tahu harusnya saya skip saja atau baca cepat, tapi ya itu... kebiasaan untuk membaca detil dan membayangkan adegan sulit hilang.

Tidak seperti dua buku sebelumnya, saya merasa agak kesulitan mengikuti jalan ceritanya.  Mungkin karena semakin banyak tokoh yang muncul, plus waktu yang berjarak dari dua buku sebelumnya membuat saya sudah agak lupa mengenai detil persisnya.

Entah kenapa, saya tidak terlalu merasakan reaksi kimia antara Reyes dan Danika. Mungkin karena saya keburu ngilu-ngilu ngebayangin Reyes kalo lagi penuh luka ya. Di sini malah saya jadi makin tertarik sama Torin dan Paris, dan Kane. Aeron juga. Sempat berharap Aeron bakal jadi sama Legion (siapa tau gitu lho dia berubah jadi cewek cantik alih-alih makhluk botak bersisik. Hihihihihi...). Tapi udah ngintip di sinopsis buku tentang Aeron, dia dipasangkan dengan orang lain.


+++ 
  • Lebih detil tentang Paris dan Aeron. 
  • Jadi tambah penasaran sama Gideon. 
  • Mulai tertarik sama Kane.
  • Makin banyak tokoh muncul.
  • Seru ngebayangin kekuatannya Danika sampe jadi rebutan semua pihak.

- - -
  • Ngilu di bagian Reyes melukai dan menyakiti dirinya sendiri.
  • Ada beberapa penulisan/penerjemahan yang agak membingungkan karena kata "dia" dan "-nya" tidak secara jelas mengacu ke siapa.
  • Kalo nggak inget-inget banget sama dua buku sebelumnya, jadi agak meraba-raba tentang siapa ini, kenapa gini, kenapa gitu.

3.5 bintang buat buku ini. Tapi karena ada Gideon, Torin, Paris dan Kane... saya buletin jadi 4 bintang.

Wednesday, November 20, 2013

Review: Driving Her Wild (Wilinski's #3) by Meg Maguire

*KHUSUS DEWASA (18++)

Title : Driving Her Wild
Author : Meg Maguire
Series : Wilinski #3
Publisher : Harlequin
Published Date : 1 Januari 2013
Pages : 218
Genre : Adult, Contemporary Romance
Language : English

Winning is good. Succumbing is even better… 

Evasion 

Recently retired pro MMA fighter Steph Healy is through having rough-and-tumble romps with sexy blue-collar dudes. Unfortunately, Wilinski's Fight Academy has hired an electrician with a body built to make a gal weep. And avoiding some full-body contact is taking all of Steph's self-control. 

Grapple 

Carpenter-turned-electrician Patrick Doherty is damn good with his hands. Sure, he's not what Steph is looking for—yet. But he's about to prove that she has seriously underestimated her opponent…. 

Submission 

The moment Patrick has her deliciously pinned, Steph knows she's in deep, deep trouble. Because this seemingly mild carpenter has the mastery to give her exactly what she needs…and this is one takedown she's willing to take lying down!

Cek di GOODREADS  atau beli di BOOK DEPOSITORY


My Opinion
*kayaknya ini bakal ada spoiler. Waspadalah!

Perkenalkan, Steph Healy, seorang fighter perempuan yang sekarang mengajar di Wilinski Fight Academy. Berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah yang sempat mengalami masa-masa susah, Steph nggak pengen kehidupannya nanti harus susah seperti orangtuanya. Itu sebabnya dia memutuskan berhenti berkencan dengan para pria pekerja dengan ekonomi menengah yang pas-pasan. Dia ingin bisa hidup nyaman tanpa harus khawatir sama masalah keuangan. Steph memutuskan untuk bergabung di agen biro jodoh dan mulai berkencan dengan pria-pria yang mapan dan berpenghasilan baik. Matre? Nggak juga, mengingat dia punya alasan yang cukup realistis berdasarkan pengalamannya di masa lalu.

Di tengah-tengah resolusinya untuk nggak lagi terlibat hubungan dengan pria-pria biasa aja, masuklah Patrick dalam kehidupan Steph.  Patrick adalah seorang laki-laki pekerja keras. Sebetulnya dia adalah tukang kayu yang handal, tapi karena sepinya order dan dia harus bertahan hidup demi membayar tagihan-tagihan, dia bela-belain kerja apapun, termasuk menerima pekerjaan sebagai teknisi listrik dari sepupunya. Di Wilinski Fight Academy ini, Patrick dapet kerjaan untuk memasang alarm. Tapi emang dasar modal nekat, pekerjaan yang harusnya bisa selesai dalam beberapa jam, sukses membuat Patrick pusing sampai sekolahan mau tutup gara-gara instalasi di gedung yang rumit.

Pertemuan pertama mereka terkesan biasa saja. Bisa dibilang Steph cuma melihat Patrick sepintas lalu. Belum lagi karakter Patrick yang dibuat biasa banget dan agak ceroboh. Dia sukses bikin hidung dan tangan Steph berdarah, dalam dua kesempatan yang berbeda. Belum lagi gara-gara dia kesulitan dengan alarm yang baru dipasangnya, Patrick membuat Steph batal berangkat ke kencan buta pertamanya karena mereka terperangkap di dalam gedung. Sikap dan perilaku Patrick bikin Steph sebel dan gregetan. Tapi...

Di balik kecerobohannya, menurut saya Patrick adalah tipe cowok dan anak baik-baik yang manis, yang sadar dia punya kekurangan, tapi tetap nyaman dengan dirinya. Meskipun Steph jelas-jelas bilang nggak tertarik, dan meskipun Steph jelas-jelas sedang mengusahakan kencan dengan beberapa pria, dia tetap bersikap manis dan gigih berusaha. Makanya Waktu Steph dengan jujur bilang dia nggak pengen menjalin hubungan dengan pria yang secara ekonomi 'bermasalah' dan Patrick kecewa, saya jadi pengen meluk Patrick. :') 
Tentu, hot and sexy tetap menjadi nilai plus bagi Patrick karena sukses bikin Steph panas dingin. Jujur, ini bikin saya pengen nyengir karena ketika hendak membayangkan tokoh Patrick, saya ngebandingin tukang kayu/teknisi di cerita ini sama di kehidupan saya sehari-hari. Beda bangeeeet. Di sini Patrick digambarkan sebagai tukang kayu/teknisi yang seksi. :D Karena ini terbitan Harlequin kategori Blaze, hubungan Patrick dan Steph juga bikin saya panas dingin pas baca . 

Saya suka sama karakter Patrick yang tetap positif dalam situasi yang buat sebagian orang menyebalkan. Waktu mobilnya mogok di dekat apartemen Steph gara-gara ada bagian mobilnya yang patah, Patrick melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang baik karena itu membuat Patrick dapat kesempatan nginep di apartemennya Steph. Belum lagi dapet bantuan dari adiknya Steph yang ngerti mobil sehingga dia bisa dapet harga sparepart lebih murah. Lebih oke lagi, adeknya Steph langsung cocok sama Patrick.

Saya suka sama insight yang diberikan oleh kakak Steph waktu tau ketakutan Steph menjalin hubungan dengan Patrick gara-gara masalah keuangannya. Betapapun beratnya situasi ekonomi, ibu mereka tetap mendampingi sang ayah dan menjalani semuanya bersama. Plus, sebagai seorang fighter, bukankah dia tetap bertanding ketika tau dia akan kalah karena lawan tandingnya jelas-jelas berada di atas angin? 
Ini bikin Steph jadi sadar bahwa Patrick adalah tipe pria yang bertanggungjawab dan pekerja keras. Nggak peduli dia lagi kesusahan secara ekonomi, dia mau mengusahakan kerja apapun, termasuk demi mempertahankan rumah impiannya yang dia bangun dari keringat dan tenaga sendiri. Dia juga nggak mengeluh soal keadaannya. 

Hadeh, saya jadi makin cinta sama Patrick!

Buat yang lagi bosen sama novel roman ala Harlequin dengan karakter cowok yang apha-male, buat yang lagi bosen sama tokoh hero yang super duperly kaya alias milyarder, ini bisa jadi alternatif bacaan. Beda dengan novel lain, saya justru merasa di sini sosok Steph justru yang lebih alpha, lebih kuat dan dingin. Tapi justru di situlah mungkin karakternya jadi seimbang sama Patrick.
Selain itu, dengan adanya masalah dan situasi yang sedang dihadapi, karakter Patrick terasa lebih real dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. In a real life, kayaknya saya lebih butuh tipe beta ala Patrick ini. Nggak macem-macem, tetap bisa positif dan kuat, mau kerja keras dan nggak milih-milih, tenang, realistis, tapi ... tetap seksi, romantis, dan ... dominan di saat tertentu. Hihihihi...

Oia, saya baca ini tanpa ngeh kalo ini buku ketiga dari seri Wilinski. Jadi penasaran karena tokoh-tokoh utama di kedua novel sebelumnya muncul cukup banyak di novel ini.




Thursday, October 3, 2013

Review: Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya oleh Abdullah Gymnastiar

Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya
Abdullah Gymnastiar
Khas MQ, 180 halaman

Menggapai kekayaan yang berlimpah merupakan impian setiap orang. Sayangnya dewasa ini manusia lebih mengagungkan kekayaan materi daripada ruhani.

Aa Gym, dalam buku Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya ini, hendak memberikan perspektif alternatif tentang kekayaan yang selama ini cenderung materialistik. Di dalam buah karyanya ini, Aa Gym menegaskan bahwa:

  • Bagi umat Islam menjadi kaya adalah sebuah keharusan, jangan hanya sekadar keinginan.
  • Kekayaan adalah sigma dari berbagai komponen. Dengan kata lain, kekayaan tidak berdimensi tunggal (kaya harta), tetapi memiliki dimensi yang luas, yakni kaya ghirah (semangat), kaya input (ilmu, wawasan, dan pengalaman), kaya gagasan (ide dan kreatiitas), kaya ibadah (amal), kaya hati, dan bonusnya kaya harta.
  • Kekayaan ruhani lebih hakiki daripada kekayaan materi semata.
  • Setiap muslim wajib menjemput kekayaan materi maupun kekayaan hakiki yang memiliki nilai tambah (added value).
  • Tolak ukur kekayaan adalah keberkahan (bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dunia dan akhirat).

Perspektif alternatif tersebut paling tidak dapat memberikan pencerahan (enlightenment) sekaligus memberikan kesadaran baru pada manusia tentang pentingnya meraih kekayaan yang hakiki.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Opini saya:
Akhirnya selesai juga baca buku ini... Saya beli buku ini di 26 Oktober 2006. Dikit lagi ini buku bakalan resmi jadi penghuni rumah selama 7 tahun (gara-gara baru dibaca sekarang, kondisinya masih mulus). Baru mulai baca 2 bab pertama di tahun 2011, terus berhenti lamaaaaaaaaa banget. Saya baru mulai melanjutkannya di bulan September 2013.

Anyway, buku ini termasuk buku pengembangan diri, tapi dengan unsur agama. Tidak berat kok. Terutama ketika membaca ini saya berasa mendengarkan suara Aa Gym yang adem ayem. Intinya mengingatkan bahwa menjadi kaya (bukan secara materi) adalah wajib. Memperkaya diri dengan ilmu, akhlak yang baik, pribadi yang kuat, gigih dan tekun, dan selalu mendasari setiap perbuatan untuk mendapatkan ridha Allah, insya Allah juga akan membawa kita pada kemakmuran yang lain, yang nggak cuma untuk kehidupan di dunia, tapi di akhirat kelak.

Ada beberapa kalimat yang cukup menyentil (buat saya yang memang sedang butuh disentil).
Saya suka karena ada bubble-bubble (apa sih istilahnya kalo di buku) yang berisi kutipan kalimat-kalimat penting, dan ada beberapa kutipan ayat yang isinya simpel, tapi sangat mengingatkan.

Nggak nyesel beli buku ini, agak nyesel baru baca sekarang. Tapi tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar dan memperbaiki diri kan? ;)



Thursday, August 29, 2013

Review: How To Master Your Habits dari Felix Y. Siauw

Ada satu pertanyaan yang selalu menarik untuk dibahas bagi siapapun yang peduli pada proses pengembangan diri; “mengapa satu orang bisa menguasai satu keahlian tertentu sementara yang lain tidak?” lebih jauh lagi pertanyaannya berkembang menjadi “bagaimana seseorang bisa menguasai suatu keahlian?”

Bagi sebagian besar manusia, keahlian adalah perkara bakat. Bagi sebagian yang lain, keahlian adalah masalah latihan dan pengulangan.

Yang menarik pula, terkadang kita saksikan seseorang sangat termotivasi untuk menguasai satu keahlian, namun dia tak dapat menguasainya. Disisi lain, ada seseorang yang samasekali tak mempunyai motivasi namun menguasai suatu keahlian.

Buku ini bukan buku motivasi, buku ini adalah buku yang akan menjelaskan pada anda bagaimana menguasai keahlian tanpa motivasi, bahkan tanpa berpikir!

Lebih hebat lagi, buku ini dikhususkan untuk anda, para pejuang dakwah Islam!


* * * * * * *

Saya punya buku ini sudah berbulan-bulan lalu lamanya. Tapi belum tergerak untuk membacanya. Waktu akhirnya terdorong baca, mungkin pengaruh abis bulan puasa, mungkin karena saya bikin janji sama diri sendiri untuk menghabiskan sisa tahun ini dengan membaca non fiksi atau non roman. Plus saya lagi pengen mengembangkan diri saya, membuang kebiasaan males dan menunda. Jadilah pilihan saya jatuh di buku mengenai pembentukan habits/kebiasaan.

Dari segi isi, seperti kebanyakan buku-buku pengembangan diri/how to/motivasi (meskipun katanya ini bukan buku motivasi), nggak ada yang cukup baru disajikan di sini. Tapi rasa penasaran, ditambah tampilan di setiap halaman yang berbeda, membuat saya cukup terhibur. Gambar-gambar itu dibuat seperti ilustrasi cerita dan cukup sesuai dengan apa yang dibahas di halaman tersebut. The greatest part-nya, karena ada gambar Jason Statham. Hahahaha... *info gak penting.

Buku ini memang banyak mengangkat ajakan dakwah dan menjadi pendakwah. Tapi bukan dakwah yang sekedar berkhotbah lho. Saya melihat di sini dakwahnya itu lebih bersifat menyebarkan kebaikan dan menjadi pemimpin/sosok yang membuat perbedaan dengan mengajak ke arah kebaikan. Tapi untuk bisa menjadi sosok tersebut, ada kebiasaan-kebiasaan baik yang harus ditanamkan. Itulah inti buku ini.

Jujur, saya sebetulnya agak terganggu dengan typo, penempatan tanda baca titik dan koma yang kurang tepat. Saya juga agak terganggu ketika kata 'habits' yang digunakan berulang-ulang tidak dimiringkan. Tapi untungnya, pas lagi baca ini saya memang lagi butuh membangun habits yang baik, jadi saya lebih berfokus pada isinya. Saya suka dengan contoh-contoh atau analogi yang diberikan. Cukup bisa dimengerti, tidak menggurui tapi memaksa kita untuk berpikir, dan ada beberapa yang agak menyentil, yang membuat diri berhenti sejenak untuk merenung, "Iya ya, kenapa ya kalo kita begini bla bla bla bla... 

Untuk bacaan yang singkat, ringan, namun menginspirasi, buku ini bagus. Jenis buku yang bisa dibuka di halaman berapa aja untuk mendapatkan inspirasi atau penguat. Definitely a keeper.

Tadinya mau kasih 5 bintang, tapi typo yang banyak membuat saya urung dan memberikan 4.5 bintang saja. :)


Wednesday, July 31, 2013

Review: I Hate Rich Men oleh Virginia Novita


Adrian Aditomo benar-benar tipikal pria kaya yang dibenci Miranda, tidak peduli betapa tampan dan seksinya pria itu. Sifatnya angkuh dan begitu superior.

Ada lagi, pria itu sinting! Adrian berani menculik Miranda hanya untuk mengatakan kalimat yang tidak masuk akal—“Adik Anda merebut tunangan saya,” kata pria itu dingin.
“Hah?” Hanya itu yang bisa dikatakan Miranda. Apakah orang yang dimaksud pria itu adalah Nino? Nino-nya yang masih berumur tujuh belas tahun dan masih polos? Tidak mungkin Nino-nya yang masih remaja itu menyukai wanita yang lebih tua, apalagi milik orang lain! 
Demi untuk membersihkan nama baik Nino, Miranda terpaksa bekerja sama dengan Adrian. Hal yang sangat sulit dilakukan karena mereka berdua tidak pernah sependapat dan selalu bertengkar. 
Seharusnya sejak awal Miranda menolak berurusan dengan Adrian. Ia benar-benar mengabaikan firasatnya. Firasat yang mengatakan Adrian mampu menjungkir-balikkan hidupnya dan terutama... hatinya.


Sinopsis dicomot dari GOODREADS.

*******

Buntelan Buku pertamaku dari BBI (Blog Buku Indonesia) yang disediakan oleh Mbak Yudith GPU. Thank you, Mbak Yudith, dan Dion yang sudah mengkoordinir bagi-bagi buntelannya. ^^

Kenapa saya milih buku ini dari sejumlah judul yang ditawarkan? Well, karena saya lagi males baca bacaan yang berat. Pengen yang bener-bener ringan dan menghibur. Mengingat banyak teman yang memberi rating tinggi pada buku ini, kenapa nggak? Jadi saya memulai buku ini dengan semangat dan antusias, dan harapan bahwa saya juga akan sangat menikmati buku ini. Seorang teman bilang ini tipikal Cinderella. Hey, I love Cinderella theme. Meskipun mungkin cheesy, saya suka. :D
Daaaaaan...

Eng ing eng ... saya nggak suka. :(

Ide ceritanya bagus. Menurut saya buku ini lucu, menarik, ringan, menghibur. Tapi ... kok berasa ada yang kurang sekaligus mengganggu ya? Ini murni subyektif pendapat saya ya. Mungkin saya sudah punya harapan tertentu, mungkin mood saya lagi nggak pas. Penting diingat, ini sebetulnya masuk kategori Novel Dewasa. Waspadalah!
  1. Di awal buku, masih bagian prolog, saya sudah nggak nyaman dengan gaya 'kebatinan'nya Miranda. I don't know, mungkin karena saya lebih nyaman menggunakan kata "aku" ketika berbicara dengan diri sendiri. Jadi rasanya janggal ketika Miranda menggunakan kata "gue" saat membatin (muncul cukup banyak dengan huruf dimiringkan. Kebatinannya maksud saya, bukan kata "gue"). Kalo ini bacaan teenlit ato si tokoh masih di usia remaja, saya mungkin masih oke. Tapi untuk tokoh 35 tahun? Hmm... bukannya cewek umur 35 tahun nggak boleh pake kata "gue", tapi ya itu tadi, mungkin karena saya pribadi lebih nyaman dengan kata "aku". Sementara, malah Adrian justru pake kata "aku". Kalo yang pake "gue" si Adrian, mungkin saya malah lebih bisa nerima. :D
  2. Terlalu banyak kalimat kebatinan yang menurut saya munculnya (atau letaknya) kurang pas. Jadi berasa nggak konsisten. Yang paling buruk, setiap kalimat kebatinan muncul, saya bener-bener berasa seperti mendengar kalimat kebatinan tokoh-tokoh di sinetron. -_-'
  3. Masih soal "gue" (dan "elo") antara Miranda dan Nino. Lagi-lagi ini bikin saya nggak nyaman bacanya. Saya konservatif kali ya. Bahkan dulu saya nggak suka ketika adek saya pernah  ber-gue-elo dengan saya. 
  4. Ada beberapa adegan yang sebetulnya mungkin lucu and konyol tapi bikin saya bener-bener 'rolling eyes' saking malesnya. Adegan numpahin makanan di sekolahnya Nino? Adegan Miranda berada di kamar Adrian pas Adrian keluar dari kamar mandi cuma mengenakan handuk? Berasa pengen bilang ke Miranda, "Please deh."
  5. Nyambung nomor 4. Penculikan, memata-matai. Adegan Chloe dititipin begitu aja oleh Sandra dan Arthur. Buset! Yang bener aja. Definitely weird. Reaksinya Miranda kok menurut saya agak kurang menggigit gitu ya. Tapi mungkin dia sudah biasa menghadapi hal-hal semacam itu. Hidupnya terasa jauh lebih ramai dibanding hidup saya. *subyektif bangeeet ya. :D
  6. Gaya berceritanya seru sih, tapi ada banyak bagian di mana menurut saya kurang mengalir. Terlalu cepat maju. Ibarat dari gigi dua langsung ke empat. Perpindahannya dari satu kalimat ke kalimat lain terasa kurang halus, seolah ingin bercerita detil, tapi nggak cukup detil. Nah, bingung kan? Saya sampe sempet mikir, apakah kalo diselipin sejumlah kata-kata ato kalimat lain justru jadi bertele-tele? Apa karena kira-kira ada batas halaman supaya ngirit pas mencetak ini buku? :p 
  7. Mungkin juga karena saya belakangan ini membombardir diri dengan membaca banyak novel terbitan Harlequin, jadi pas baca buku ini langsung terpikir, "Harlequin bangeeeeet!" dan merasa agak aneh sendiri. Bisa aja sih cerita-cerita tipikal Harlequin dibikin versi Indonesianya. Toh beberapa buku fiksi Indonesia ada yang mengingatkan saya pada novel-novel Harlequin. Tapi ya itu, berasa ada yang mengganjal di buku ini. 
  8. Ada beberapa pengulangan kalimat (kebatinan) yang menurut saya mengganggu.

Tapi, terlepas dari segala kekurangan, ada juga kok bagian-bagian yang bikin saya menikmati baca buku ini:
  1. Buku ini bener-bener ringan dan menghibur. Penulisnya sukses bikin saya tersihir untuk terus baca sampe abis. *selain mungkin karena todongan dari Dion untuk segera mereview buku ini. Hahahahaha...
  2. Miranda sukses bikin saya ngiri dan berniat diet dan olahraga biar terus fit dan terlihat lebih muda dari usia sebenernya. :D
  3. Saya suka bagian Jessica bilang ke Adrian kalo dia berubah pikiran dan mau menikah dengan Adrian, dan sukses bikin Adrian melongo. :D
  4. Berharap ada sekuelnya tentang Jess dan Nino.
  5. Adrian berkacamata??? Weeew.. jadi penasaran liat bentuk fisiknya, saya pasti jauh lebih suka versi berkacamatanya dia. :D


Akhir kata, buku ini layak untuk dijadikan bacaan yang menghibur. I really wish I could give it 4 stars, tapi karena banyak printilan2x yang mengganggu (buat saya), dengan berat hati saya kasih 2,5 bintang aja.



*Pendapat ini nggak permanen. Seringkali ketika saya baca ulang, pendapat dan sudut pandang saya berubah. Tapi untuk saat ini, ya inilah yang saya rasakan. Seperti kebanyakan review saya yang lain, semua sangat subyektif. Yah, terutama karena saya nggak merasa bisa mereview secara objektif mengenai alur, plot, karakteristik dll. Hehehe...




Sunday, May 5, 2013

Rapid Fire Question About Books

Mendadak dapet todongan dari Ren, sebagai kelanjutan dari pertanyaan massal di grup BBI (Facebook).
Sejarah awalnya sih Winda melempar 10 pertanyaan di FB. Terus Putri Utama memodifikasinya dan ... lha kok terus mendadak menggelinding, dan saya ketembak. *sungguh saya nggak kreatip nih kalo harus bikin pertanyaan-pertanyaan gini. Semedi dulu terpaksa.

Baiklah, akan saya coba menjawab.

Pertanyaan dari WINDA:

1. nambah atau ngurangin timbunan?
Niatnya ngurangin, prakteknya nambah. 

2. pinjam atau beli buku?
Beli donk. Soalnya bacanya tergantung mood, kasian buku yg dipinjem kalo sampe nginep di rumah berbulan-bulan.

3. baca buku atau nonton film?
Baca buku. Nonton film mah cuma buat selingan.

4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh)
Berhubung belakangan suka males keluar rumah, ONLINE. Offline cuma kalo mentok gak nemu di Online (dan lagi ada diskon besar-besaran)

5. (penting) buku bajakan atau ori?
ORI. (meskipun tetep unduh kalo mentok dan sangat-sangat ingin baca banget saat itu juga)

6. gratisan atau diskonan?
Gratisan aja. :p

7. beli pre-order atau menanti dgn sabar?
Dulu impulsif PO, tapi belakangan semakin bijak untuk menanti dengan sabar.

8. buku asing (terjemahan) atau lokal?
Buku asing aja deh. Lokal hanya kalo direkomen temen, itu juga ternyata suka beda selera.
----
(pembatas buku)
9. penting atau biasa aja?
Biasa aja. Kadang-kadang butuh sih, tapi nggak ada juga nggak masalah. Biasanya inget kok terakhir baca di bagian mana. ^^

10. bookmark atau bungkus chiki?
Tergantung tujuannya ya. Kalo buat ngebatasin buku, dua-duanya boleh. Tapi buat koleksi? Bookmark deh. :p


Nah, pertanyaan dari Ren:

11. ebook atau paperback?
Buat baca ebook, buat koleksi paperback.

12. cover dengan gambar orang atau pemandangan?
Gambar orang (asal keren). Tapi pemandangannya HR versi Gramed waaaay better than HR versi Dastan

13. Stephenie Meyer ( Twilight) atau E.L.James (Fifty Shades of Grey)? 
Nggak tertarik baca dua-duanya, tapi berhubung udah nonton filmnya dan salut ama efeknya terhadap perkembangan dunia novel dan film, Stephenie Meyer ( Twilight) aja. Banget.

14. metropop atau chicklit?
Metropop aja deh.

15. dengerin musik saat baca buku, yes or no?
No. Nggak konsen, bawaannya jadi pengen ikut nyanyi. Meskipun kalo udah serius baca musiknya juga akan terlupakan sih.


Hasil semedi saya berupa 5 pertanyaan berikut:
11. Cover novel: Gramedia atau Dastan?

12. Ngikutin tren (baca yang emang lagi rame dibicarakan orang) atau cuek aja (fokus sama buku yang emang pengen dibaca meskipun nggak ada orang yang baca buku itu)? Fiction only, please.

13. Buku berseri: kudu baca berurutan atau baca manapun yang kayaknya lebih bagus?

14. Tiduran atau duduk?

15. Buat koleksi: Hardcover atau softcover?

Dan saya akan menembak ... (celingukan dan klik sana sini dulu)
1. Lina Riyanty
2. Maryana Ulfah As Roro
3. Wenny Widyastuti
4. Retno Dewi Yani
5. Edisty Friskanesya