Showing posts with label romance. Show all posts
Showing posts with label romance. Show all posts

Wednesday, July 1, 2015

Review: Belenggu Masa Lalu (A Rogue in Texas) oleh Lorraine Heath


Judul: Belenggu Masa Lalu 
Judul Asli : A Rogue in Texas
Seri: Rogues in Texas #1
Pengarang: Lorraine Heath
Alih bahasa : Arum Titisari
Editor : Jantje
Jumlah halaman :  412 halaman
Tanggal Terbit : 5 September 2012 (terbitan pertama 1999)
Penerbit: Dastan Books 
ISBN : 139786022470243
Bahasa : Indonesia


Abigail Westland adalah seorang wanita yang sederhana sekaligus mandiri serta tangguh. Setelah suaminya gugur dalam perang, Abigail harus bekerja keras di perkebunan kapas miliknya bersama ketiga anaknya yang masih kecil.

Grayson Rhodes pergi ke Texas untuk mencoba peruntungannya demi menjadi tuan tanah dan mendapatkan rasa hormat yang tak pernah didapatkannya karena terlahir sebagai anak haram seorang duke. Di negeri asalnya, Inggris, ia terkenal sebagai pria bereputasi buruk, penggoda wanita-wanita yang sudah menikah, namun tak pernah merasakan cinta dan dicintai seumur hidupnya. Ia tak menyangka di negeri baru yang sepanas neraka ini, ia harus bekerja keras di ladang kapas seorang janda mungil yang pemberang dan keras kepala yang mampu menembus hatinya. Kepolosan dan kasih sayang yang dimiliki Abigail perlahan mampu meluluhkan Grayson. Sementara itu, Abigail belum pernah bertemu dengan pria yang mampu membuatnya tertawa dan melupakan beban hidupnya meskipun hanya untuk sementara. 

Apakah ambisi Grayson mendapatkan tanah akan membuatnya memilih harta dibandingkan cinta? Akankah cinta mereka akan merekah di tengah beratnya beban hidup yang mengimpit mereka? Apakah masih ada kebahagiaan untuk mereka di tengah kerasnya perjuangan hidup?

OPINI SAYA

SPOILER ALERT! AWAS SPOILER! 
Saya bakal munculin sebagian spoiler karena ini yang jadi alasan kenapa saya kasih rating sekian.

Setelah sekian lama tidak menyentuh novel sama sekali, akhirnya beberapa waktu lalu saya mulai menjamah salah satu novel terjemahan yang tergeletak di dekat meja. Saya mulai di awal Juni, sempat putus sambung lantaran nggak terlalu semangat baca, tapi 2-3 hari belakangan memaksakan diri untuk menyelesaikannya. Karena lagi puasa, bagian-bagian yang ‘uhuk-ehem’ dibaca sepintas kayak baca teori di buku aja. Nggak pake nancep di otak, Cuma numpang lewat mata aja. XD

Anyway, saya suka dengan sebagian buku-bukunya Lorraine Heath. Saya cukup menikmati membaca buku ini, terlepas dari semangat baca yang sedang meredup. Ide pria-pria Inggris kalangan bangsawan yang brengsek dan dikirim ke Amerika untuk memulai hidup dari nol dan menjadi tuan tanah cukup seru. Nggak kebayang mereka yang nggak biasa kerja keras di ladang dan biasa pake baju sutra tiba-tiba harus menjalani hidup sebagai pekerja kasar. Ngebayanginnya kerja seharian dari matahari belum terbit, panas-panasan, kerja kasar, dan harus menjalani itu seumur hidup bikin saya ngebayangin betapa lelah dan pegelnya, dan bersyukur bahwa kerja keras saya nggak harus seperti itu.

Saya nggak keberatan bahwa si tokoh perempuan adalah janda dengan tiga anak. Why not? Yang bikin agak males adalah dengan cepatnya mereka tertarik satu sama lain. Hehehe... dan yang bikin lebih males adalah munculnya John, suaminya Abbie yang dipikir orang-orang udah mati di medan perang. Yes, of course dia dibuat sedemikian rupa supaya agak nyebelin, supaya pembaca bersimpati sama Abbie. Emang sih, ngebayangin hidup yang harus dijalaninya bikin saya mikir, “Haduh, kalo itu gue, kayaknya nggak bakalan deh bisa bertahan dan tetap waras.” Tapi saya malah justru bersimpati dan kasihan ama John. Apalagi dia menunjukkan perubahan dan melakukan hal yang menurut saya adalah bentuk tanggungjawabnya, terlepas dari kenyataan dia nggak sekeren, se-gentleman, seromantis Grayson. Bukan salah dia juga kalo nggak bisa sepenuhnya bersikap seperti John. 

Endingnya sih udah bisa ketebak, Abbie tetep sama Grayson. Dan John? Nah, bagian ini silakan baca sendiri. Yang jelas saya penasaran ama ceritanya Harry dan Kit, dua teman Grayson yang juga ikut berangkat ke Texas, meninggalkan kehidupan mereka di Inggris. Buku berikutnya adalah tentang Harry dan Jesse, cewek tangguh yang sejak kecil hidup di bar yang dimiliki ayahnya. ^^

RATING:




Friday, August 29, 2014

Review : Sang Kesakitan (The Darkest Pleasure) - Gena Showalter

Sang Kesakitan (The Darkest Pleasure) 
(Lords of the Underworld #3)
oleh Gena Showalter

Paperback, 463 halaman
Dipublikasikan tahun 2011 oleh Violet Books (first published January 1st 2008)
Judul Asli : The Darkest Pleasure
ISBN : 139789790816060

Ia bisa menanggung kesakitan sehebat apa pun, kecuali takut kehilangan gadisnya.

Reyes adalah seorang pria yang dirasuki. Terikat oleh Iblis Kesakitan, kenikmatan adalah hal yang terlarang baginya. Sampai ia mendambakan seorang perempuan manusia, Danika Ford, melebihi kebutuhannya untuk bernapas dan akan melakukan apa pun untuk memilikinya-meski harus menantang para dewa.

Danika sedang dalam pelarian. Selama sebulan ia menghindar dari para Penguasa Dunia Kematian, kesatria abadi yang tak akan berhenti mengejarnya hingga dirinya dan seluruh keluarganya dimusnahkan. Tapi mimpi-mimpinya selalui dihantui oleh Reyes, kesatria yang sentuhan membaranya tak bisa dilupakan. Namun, kebersamaan mereka di masa depan berarti kematian bagi orang-orang yang mereka berdua sayangi.


OPINI SAYA:

Akhirnya.... saya melanjutkan kembali membaca seri LOTU dan kali ini gilirannya Reyes.
The great thing about book in series adalah dari satu buku, pembaca sudah dikasih petunjuk dengan siapa si anu (temannya si tokoh utama) akan berpasangan di buku-buku berikutnya. Nggak serunya, ya udah ketahuan. Apalagi kalau bacanya beberapa tahun setelah buku tersebut diterbitkan. Kita tinggal mengintip sinopsis buku-buku lanjutannya di Goodreads.

Membaca buku ini bikin saya (agak) merasa ngilu. Saya pembaca yang lambat, karena saya sering berusaha membayangkan apa yang digambarkan oleh penulis. Nah, jeleknya, ketika tiba di bagian bagaimana Reyes melukai dirinya, mulai dari menorehkan, menusuk, mengcungkil, memutar pisau di daging de el el, saya langsung berasa nyeri ngilu-ngilu gimanaaaaa gitu. Saya tahan melihat darah, tapi saya nggak tahan melihat luka berat (yang sampe dagingnya (atau yang lebih buruk, tulangnya) keliatan gitu. Hadeeeeh... saya ngetik ini aja langsung ngilu. Saya tahu harusnya saya skip saja atau baca cepat, tapi ya itu... kebiasaan untuk membaca detil dan membayangkan adegan sulit hilang.

Tidak seperti dua buku sebelumnya, saya merasa agak kesulitan mengikuti jalan ceritanya.  Mungkin karena semakin banyak tokoh yang muncul, plus waktu yang berjarak dari dua buku sebelumnya membuat saya sudah agak lupa mengenai detil persisnya.

Entah kenapa, saya tidak terlalu merasakan reaksi kimia antara Reyes dan Danika. Mungkin karena saya keburu ngilu-ngilu ngebayangin Reyes kalo lagi penuh luka ya. Di sini malah saya jadi makin tertarik sama Torin dan Paris, dan Kane. Aeron juga. Sempat berharap Aeron bakal jadi sama Legion (siapa tau gitu lho dia berubah jadi cewek cantik alih-alih makhluk botak bersisik. Hihihihihi...). Tapi udah ngintip di sinopsis buku tentang Aeron, dia dipasangkan dengan orang lain.


+++ 
  • Lebih detil tentang Paris dan Aeron. 
  • Jadi tambah penasaran sama Gideon. 
  • Mulai tertarik sama Kane.
  • Makin banyak tokoh muncul.
  • Seru ngebayangin kekuatannya Danika sampe jadi rebutan semua pihak.

- - -
  • Ngilu di bagian Reyes melukai dan menyakiti dirinya sendiri.
  • Ada beberapa penulisan/penerjemahan yang agak membingungkan karena kata "dia" dan "-nya" tidak secara jelas mengacu ke siapa.
  • Kalo nggak inget-inget banget sama dua buku sebelumnya, jadi agak meraba-raba tentang siapa ini, kenapa gini, kenapa gitu.

3.5 bintang buat buku ini. Tapi karena ada Gideon, Torin, Paris dan Kane... saya buletin jadi 4 bintang.

Wednesday, November 20, 2013

Review: Driving Her Wild (Wilinski's #3) by Meg Maguire

*KHUSUS DEWASA (18++)

Title : Driving Her Wild
Author : Meg Maguire
Series : Wilinski #3
Publisher : Harlequin
Published Date : 1 Januari 2013
Pages : 218
Genre : Adult, Contemporary Romance
Language : English

Winning is good. Succumbing is even better… 

Evasion 

Recently retired pro MMA fighter Steph Healy is through having rough-and-tumble romps with sexy blue-collar dudes. Unfortunately, Wilinski's Fight Academy has hired an electrician with a body built to make a gal weep. And avoiding some full-body contact is taking all of Steph's self-control. 

Grapple 

Carpenter-turned-electrician Patrick Doherty is damn good with his hands. Sure, he's not what Steph is looking for—yet. But he's about to prove that she has seriously underestimated her opponent…. 

Submission 

The moment Patrick has her deliciously pinned, Steph knows she's in deep, deep trouble. Because this seemingly mild carpenter has the mastery to give her exactly what she needs…and this is one takedown she's willing to take lying down!

Cek di GOODREADS  atau beli di BOOK DEPOSITORY


My Opinion
*kayaknya ini bakal ada spoiler. Waspadalah!

Perkenalkan, Steph Healy, seorang fighter perempuan yang sekarang mengajar di Wilinski Fight Academy. Berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah yang sempat mengalami masa-masa susah, Steph nggak pengen kehidupannya nanti harus susah seperti orangtuanya. Itu sebabnya dia memutuskan berhenti berkencan dengan para pria pekerja dengan ekonomi menengah yang pas-pasan. Dia ingin bisa hidup nyaman tanpa harus khawatir sama masalah keuangan. Steph memutuskan untuk bergabung di agen biro jodoh dan mulai berkencan dengan pria-pria yang mapan dan berpenghasilan baik. Matre? Nggak juga, mengingat dia punya alasan yang cukup realistis berdasarkan pengalamannya di masa lalu.

Di tengah-tengah resolusinya untuk nggak lagi terlibat hubungan dengan pria-pria biasa aja, masuklah Patrick dalam kehidupan Steph.  Patrick adalah seorang laki-laki pekerja keras. Sebetulnya dia adalah tukang kayu yang handal, tapi karena sepinya order dan dia harus bertahan hidup demi membayar tagihan-tagihan, dia bela-belain kerja apapun, termasuk menerima pekerjaan sebagai teknisi listrik dari sepupunya. Di Wilinski Fight Academy ini, Patrick dapet kerjaan untuk memasang alarm. Tapi emang dasar modal nekat, pekerjaan yang harusnya bisa selesai dalam beberapa jam, sukses membuat Patrick pusing sampai sekolahan mau tutup gara-gara instalasi di gedung yang rumit.

Pertemuan pertama mereka terkesan biasa saja. Bisa dibilang Steph cuma melihat Patrick sepintas lalu. Belum lagi karakter Patrick yang dibuat biasa banget dan agak ceroboh. Dia sukses bikin hidung dan tangan Steph berdarah, dalam dua kesempatan yang berbeda. Belum lagi gara-gara dia kesulitan dengan alarm yang baru dipasangnya, Patrick membuat Steph batal berangkat ke kencan buta pertamanya karena mereka terperangkap di dalam gedung. Sikap dan perilaku Patrick bikin Steph sebel dan gregetan. Tapi...

Di balik kecerobohannya, menurut saya Patrick adalah tipe cowok dan anak baik-baik yang manis, yang sadar dia punya kekurangan, tapi tetap nyaman dengan dirinya. Meskipun Steph jelas-jelas bilang nggak tertarik, dan meskipun Steph jelas-jelas sedang mengusahakan kencan dengan beberapa pria, dia tetap bersikap manis dan gigih berusaha. Makanya Waktu Steph dengan jujur bilang dia nggak pengen menjalin hubungan dengan pria yang secara ekonomi 'bermasalah' dan Patrick kecewa, saya jadi pengen meluk Patrick. :') 
Tentu, hot and sexy tetap menjadi nilai plus bagi Patrick karena sukses bikin Steph panas dingin. Jujur, ini bikin saya pengen nyengir karena ketika hendak membayangkan tokoh Patrick, saya ngebandingin tukang kayu/teknisi di cerita ini sama di kehidupan saya sehari-hari. Beda bangeeeet. Di sini Patrick digambarkan sebagai tukang kayu/teknisi yang seksi. :D Karena ini terbitan Harlequin kategori Blaze, hubungan Patrick dan Steph juga bikin saya panas dingin pas baca . 

Saya suka sama karakter Patrick yang tetap positif dalam situasi yang buat sebagian orang menyebalkan. Waktu mobilnya mogok di dekat apartemen Steph gara-gara ada bagian mobilnya yang patah, Patrick melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang baik karena itu membuat Patrick dapat kesempatan nginep di apartemennya Steph. Belum lagi dapet bantuan dari adiknya Steph yang ngerti mobil sehingga dia bisa dapet harga sparepart lebih murah. Lebih oke lagi, adeknya Steph langsung cocok sama Patrick.

Saya suka sama insight yang diberikan oleh kakak Steph waktu tau ketakutan Steph menjalin hubungan dengan Patrick gara-gara masalah keuangannya. Betapapun beratnya situasi ekonomi, ibu mereka tetap mendampingi sang ayah dan menjalani semuanya bersama. Plus, sebagai seorang fighter, bukankah dia tetap bertanding ketika tau dia akan kalah karena lawan tandingnya jelas-jelas berada di atas angin? 
Ini bikin Steph jadi sadar bahwa Patrick adalah tipe pria yang bertanggungjawab dan pekerja keras. Nggak peduli dia lagi kesusahan secara ekonomi, dia mau mengusahakan kerja apapun, termasuk demi mempertahankan rumah impiannya yang dia bangun dari keringat dan tenaga sendiri. Dia juga nggak mengeluh soal keadaannya. 

Hadeh, saya jadi makin cinta sama Patrick!

Buat yang lagi bosen sama novel roman ala Harlequin dengan karakter cowok yang apha-male, buat yang lagi bosen sama tokoh hero yang super duperly kaya alias milyarder, ini bisa jadi alternatif bacaan. Beda dengan novel lain, saya justru merasa di sini sosok Steph justru yang lebih alpha, lebih kuat dan dingin. Tapi justru di situlah mungkin karakternya jadi seimbang sama Patrick.
Selain itu, dengan adanya masalah dan situasi yang sedang dihadapi, karakter Patrick terasa lebih real dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. In a real life, kayaknya saya lebih butuh tipe beta ala Patrick ini. Nggak macem-macem, tetap bisa positif dan kuat, mau kerja keras dan nggak milih-milih, tenang, realistis, tapi ... tetap seksi, romantis, dan ... dominan di saat tertentu. Hihihihi...

Oia, saya baca ini tanpa ngeh kalo ini buku ketiga dari seri Wilinski. Jadi penasaran karena tokoh-tokoh utama di kedua novel sebelumnya muncul cukup banyak di novel ini.




Sunday, April 7, 2013

Review: Menaklukkan Hati Sang Marquis oleh Julia Quinn


Edisi: Paperback, 448 halaman
Tanggal Terbit: April 2011
Penerbit: Dastan Books 
ISBN139786028723794
Bahasa: Indonesian
Judul Asli: How to Marry a Marquis (diterbitkan pertama kali 9 Maret 1999)

Elizabeth Hotchkiss harus menikah secepatnya dengan seorang laki-laki kaya. Sebagai saudara perempuan tertua dengan tiga adik masih kecil, ia harus bekerja keras untuk membiayai kebutuhan keluarganya sejak kedua orangtuanya meninggal. Namun, kebutuhan mereka semakin lama semakin meningkat sehingga ia tidak tahu lagi harus mendapatkan uang dari mana. Elizabeth lalu memutuskan bahwa satu-satunya cara adalah menikah dengan bangsawan yang kaya.


Sementara itu James Sidwell alias Marquis of Riverdale, diminta datang oleh bibinya yang kebetulan merupakan majikan Elizabeth, untuk menyelidiki suatu kasus kekerasan. James datang dengan menyamar sebagai pengurus properti. Ia menerima undangan bibinya karena ingin melarikan diri dari gadis-gadis yang mengejarnya di London. Selama ini, James beranggapan tidak ada wanita yang mampu membuatnya tertarik. Namun, semua itu langsung berubah sejak pertama kali ia melihat Elizabeth. James langsung terpukau dengan kecantikan dan kebaikan hati Elizabeth sekaligus lidah Elizabeth yang tajam yang entah bagaimana sekaligus membuatnya terpikat. Di lain pihak, seumur hidupnya baru kali ini Elizabeth bertemu dengan seorang laki-laki setampan James. Setiap kali berdekatan dengan James, jantungnya selalu berdebar-debar. Namun, Elizabeth tidak bisa jatuh cinta pada James, karena James mengaku sebagai laki-laki miskin.



Setelah jati diri James yang sebenarnya terkuak, apakah Elizabeth masih mau menerima James yang sudah membuatnya merasa tertipu dan tersakiti dengan penyamaran pria itu selama ini? Dan apakah tekad James cukup kuat untuk meyakinkan Elizabeth agar mau menikah dengannya?


REVIEW SAYA:
Setelah sukses menyelesaikan buku pertamanya, saya langsung penasaran baca dan melanggar janji membacanya kalo udah berhasil menyelesaikan laporan. Duh!

Jadi cerita dimulai seperti sinopsis di atas, dan ini merupakan salah satu tema favorit saya, yaitu ketika di mana salah satu tokoh berpura-pura menjadi orang lain. :)
Karena sudah lama nggak baca buku-bukunya JQ, saya benar2x lupa siapa itu Lady Danburry yang namanya sangat familiar. Tentu saja saya mengenal William Dunford, nama itu juga familiar, meskipun saya nggak tau persis dia muncul di novel yang mana. Jangan-jangan saya udah baca tapi nggak inget?

Anyway, saya suka banget dengan ide buku merah itu. Bagaimana Susan, adik Elizabeth (alias Lizzie), dengan bijaksana meminta Lizzie untuk benar-benar memraktekkannya. Padahal dia baru umur 14 tahun. Yah, kemudian ceritapun mengalir, dan saya suka dengan interaksi antara James dan Lizzie. Lagi-lagi, dialog yang cerdas (dan cepat) antara tokoh-tokoh, termasuk tokoh tambahan selain Lizzie dan James membuat saya sempat keteteran mengikutinya.

Baca buku kedua tentang James dan Lizzie jauh lebih cepat dan dibandingkan buku tentang Caroline dan Blake. Saya jauuuuuuh lebih menyukai karakter Lizzie dibanding Caroline. 

Secara keseluruhan, saya suka dengan semua karakter di buku ini, kecuali ... Caroline. Duh, perasaan saya ke Caroline antara pengen ketawa dan sebel. Saya jadi merasa bisa merasakan kekesalan James waktu Caroline bolak-balik nyeletuk. Jadi sementara orang-orang merasa buku satu lebih seru (karena emang situasinya amat sangat ajaib dan konyol, ditambah karakter Caroline yang bebas lepas dan cenderung impulsif), saya justru lebih suka dengan pasangan James dan Elizabeth. Tapi bener sih, seperti kata temen-temen, kemunculan Blake dan Caroline di sini bikin suasana jadi lebih rame. 

Saya kagum banget sama tokoh Elizabeth yang sangat setia dan sayang pada adik-adiknya. Kagum pada usaha dan kepeduliannya. Keterbukaannya mengenai masalah keuangan terhadap adik-adiknya yang, untungnya, bisa ikut menyikapi dengan bijaksana. Di tengah situasi seperti itu, saya melihat Lizzie tetap tegar, tetap positif dan bisa membuat adik-adiknya juga tetap positif. Saya bisa mengerti kekesalan James ketika Elizabeth mempertahankan harga dirinya dan menolak wesel pemberiannya, meskipun itu mengorbankan kesejahteraan adik-adiknya. 

Saya kasih bintang 4 (meskipun saya punya feeling seandainya saya baca edisi asli bahasa Inggrisnya adalah sangat mungkin saya memberi bintang 5).



Review: Memikat Sang Pewaris dari Julia Quinn


Caroline Trent sejak kecil harus tinggal berpindah-pindah dengan wali yang berbeda. Wali terakhirnya adalah seorang laki-laki yang tamak sehingga Caroline memilih untuk melarikan diri pada suatu malam. Namun, ia tidak menduga kalau malam itu adalah malam yang mengubah hidupnya selamanya.

Blake Ravenscroft adalah agen pemerintah yang menyelidiki kasus mata-mata. Ia memiliki masa lalu yang kelam serta memendam rasa sakit akibat ditinggal orang yang dicintainya sehingga ia menutup hatinya dan tidak pernah berpikir untuk menikah, sampai ia bertemu Caroline. Awalnya, Blake menyangka Caroline adalah mata-mata Napoleon. Ia menculik Caroline dan mengikatnya di tempat tidur. Setelah identitas Caroline terungkap, Blake menyadari kalau hatinya mulai goyah melihat Caroline yang riang dan polos. Sementara itu, Caroline mulai menyadari kalau dirinya jatuh cinta kepada penculiknya.

Penyelidikan Blake yang berbahaya tidak menggoyahkan keputusan Caroline untuk ikut membantu. Dan ketika nyawa Caroline terancam tepat di hadapannya, Blake pun harus menghilangkan trauma masa lalunya dan menyelamatkan Caroline sebelum semuanya terlambat...

REVIEW SAYA

Ini salah satu buku yang hampir selalu dielu-elukan teman-teman saya yang suka banget sama novel historical romance. Sebagai penggemar seri The Bridgerton-nya Julia Quinn, saya percaya bahwa novel ini bagus. Dan kocak, yang menurut saya salah satu kelebihan Julia Quinn.

Saya beli novel ini di tahun 2011, nggak inget bulan apa. Yang jelas, baru saya baca di bulan April 2013 setelah plastik segelnya dibuka ibu saya yang sudah selesai membacanya terlebih dahulu. Dan beliau mengeluhkan adanya cetakan yang salah, yaitu halaman 193-200-nya nggak ada, dan justru tergantikan sama isi novelnya Eloisa James. Jadi, sebagai pembaca, kita dipaksa mengira-ngira ada kejadian apa di antara bab 11-12.

Di awal buku, saya yang sudah lama nggak baca novelnya JQ langsung bisa merasakan kekhasan JQ dalam menggambarkan tokoh yang unik dan terkesan seenaknya sendiri. Well, Caroline emang beda. Setidaknya dari standard orang-orang di jaman itu, tapi nggak beda sama heroine-heroine. :D Anyway, bahkan ketika dia berdebat mulut dengan Percy, saya langsung inget bahwa yang bikin saya suka sama novel2xnya JQ adalah dialognya yang segar dan terkesan cepat, tapi ringan.

Ketika akhirnya Caroline bertemu Blake, yah, saya agak merasa aneh. Maksudnya, mengingat Blake adalah agen rahasia, harusnya sih suasananya bisa lebih sedikit dark. Tapi berkat karakter Caroline, semua jadi berasa konyol yang membuat saya jadi mikir, mungkin nggak siiiiiih??? Tapi saya menikmati interaksi dan dialog di antara mereka. Dan suasana jadi lebih seru begitu James, sahabat dan rekan kerja Blake, muncul. Dan lebih meriah lagi waktu Penelope, kakak perempuan Blake, juga datang berkunjung. Belum lagi tingkah konyol Perrwick, salah satu pelayan Blake. Berasa nonton film komedi.

Tapi niiiih ... tidak seperti saat membaca seri Bridgerton, saya merasa ada yang kurang. Dan cerita mereka nggak seseru yang selama ini dipromosikan teman-teman. Menurut saya, ada beberapa faktor yang memengaruhi penilaian saya ini:
  1. Saya dalam masa sedang mengejar tenggat pengumpulan tugas, yang berarti saya baca secepat mungkin karena penasaran tapi disertai rasa bersalah karena menyisihkan waktu buat baca novel. :D
  2. Apakah karena ini terjemahan? Bukannya sok bisa baca buku bahasa Inggris, tapi seringkali ada cerita-cerita yang lebih dapat 'feel'-nya pas pake bahasa aslinya.
  3. Gara-gara ada insiden kesalahan penjilidan yang membuat saya kehilangan sebagian cerita.
Tapi terlepas dari itu, saya menikmati buku ini, dan banyak bagian yang bikin saya nyengir-nyengir sendiri. Adegan intimnya nggak terlalu banyak, tapi menurut saya malah bagus, jadi sesuai dengan kepolosan Caroline, dan membuat hubungan mereka terasa manis, kayak permen kapas. ^^

4 bintang. Dan setelah berhasil menyelesaikan 1 laporan (padahal keseluruhan masih ada 5 laporan dan 1 proposal yang harus dikerjakan), saya pengen baca lanjutannya yang tentang James. Tapi lihat saja nanti. 


Sunday, January 13, 2013

My Ridiculous Romantic Obsession

Ini adalah kisah cewek bertemu cowok. Cowoknya tampan sementara si cewek biasa-biasa saja, dengan rambut ikal yang liar seperti medusa. Ih. Ada kesalahpahaman, tokoh antagonis yang kejam, dan pernyataan cinta yang tepat waktu .... Yah, baiklah, ini memang cerita romantis. Tapi tolong dicatat, tidak ada perempuan berpakaian ketat di pelukan perampok berotot di sampul tipisnya; aku bukan cewek seperti itu.

Aku seorang cewek yang sehari-harinya menjalani kehidupan normal. Dan aku tidak bisa mengerti kenapa Ben—yang setampan dewa Yunani—ingin menjadi temanku. Apakah karena kami berdua bisa bermain gitar dan menyukai es krim dengan rasa yang sama? Atau apakah dia ingin dekat-dekat denganku agar aku bisa membantunya menyelesaikan tugas kuliah? Kuharap tidak, karena aku sama sekali tidak tertarik pada cowok yang memanfaatkan cewek seperti itu. Tidak, terima kasih.

Tapi aku sangat tertarik pada Ben. Dia benar-benar pria terhormat—tokoh jagoan dalam novel romantis sungguhan. (Seperti Mr. Darcy yang terdaftar di kelas sejarah seniku.) Mungkinkah ini nyata? Ataukah obsesi romantisku yang konyol berhasil mengelabuiku—sekali lagi?


Format: buku (pinjem dari Amel)
Jumlah Halaman : 270 halaman
Penerbit : Atria (Oktober 2011)
Bahasa : Indonesia (terjemahan)
Genre : Kontemporer, Young Adult

HATI-HATI! Suka nggak sadar kalo saya spoiler saking antusiasnya bercerita. :D

Sementara banyak orang suka baca novel dengan genre Young Adult  seperti Twilight, Perfect Chemistry, Iron King, dll. (saya nggak bisa kepikir yang lain, payah ya), saya belum tertarik sama sekali. Yah baca sih 1-2 buku. Sempet beli juga, tapi ngerasa biasa aja. Ngeliat cover novel ini muncul di recent updates di Goodreads saya tertarik. Sama covernya. Dan itu muncul di statusnya Amel. Berhubung rumahnya dekat, saya todong langsung aja. Eh, dasar nggak tau diri, udah dipinjemin, saya berlama-lama karena mood untuk membaca tak kunjung datang. Setelah baca 2 bab, saya tinggal.
Mungkin karena awal tahun dan masih semangat sama resolusi saya, saya terdorong untuk membaca ini (dari awal tentunya, karena saya nggak inget lagi apa yang udah saya baca).

Dan saya sukaaaaaa ... Awalnya agak membosankan buat saya. Standardlah, deskripsi tentang kuliahnya Sarah, tentang cowok dengan gaya bahasa yang konyol dan dilebih-lebihkan (dari sudut si Sarah). 
Jadi Sarah adalah cewek yang tergila-gila novel romantis. Bisa disebut novel roman gak? Kok kayaknya nuansanya beda ya kalo disebut novel roman dan romantis? :D
Nah, karena obsesinya sama novel roman ini, Sarah sering ngehubungin apa  yang terjadi pada dirinya, dan cewek-cewek dan cowok-cowok di sekitarnya dengan apa yang sering dia baca. Bahwa cowok tertarik sama cewek seksi dengan suara mendesah dan bentuk bodi bagus. Sementara cewek pintar tapi berpenampilan biasa aja jelas nggak bakal dilirik. Jadi dia agak bingung, takjub, ketika Ben, cowok yang menurutnya paling oke dan menakjubkan, pintar dan menarik, tertarik sama dia. Hmm... kok dia nggak percaya sama Cinderella ya? :D

Saya suka karakter Sarah yang terlepas dari kekurangannya (yang dirasakan oleh dirinya sendiri), ternyata dia punya banyak kelebihan: pintar, jago main gitar, bisa nyanyi, dan yang paling penting, bisa masak! Kan katanya cara paling cepat merebut hati pria lewat perutnya. Dan Sarah sukses membuat Ben, dan juga Chel, sahabatnya, bertekuk lutut (meskipun Sarah nggak sadar soal ini). Jadi saya ngebayangin si Sarah ini bener-bener jago masak. Saya jadi terinspirasi untuk lebih sering terjun ke dapur dan mencoba resep baru.
Tapi saya juga terpikir sih, kayaknya ada beberapa waktu saya juga seperti Sarah, berpikir it's too good to be true kalo ada cowok yang oke mau sama cewek yang (menurut saya) biasa-biasa aja, sementara ratusan cewek yang lebih menarik berseliweran di mana-mana. Insecurity! Siap-siap panggil psikolog buat konseling! :D

Saya suka hubungan yang manis kayak Sarah dan Ben, lebih berasa kayak teman. Dan hah! Nuansa ini yang jadi bumerang buat hubungan mereka. Saking nyamannya hubungan mereka, Sarah berpikir Ben cuma pengen temenan aja, sementara Ben punya pandangan lain. 
Saya sukaaaaaaaaaa banget sama ilustrasi Dean soal main catur ketika dia berusaha menjelaskan ke Sarah tentang hubungan Sarah dan Ben dari sudut pandangnya dia sebagai cowok.

Karena ini cuma diambil dari sudut pandang Sarah, saya jadi agak penasaran sama alasan (dan cara pandang) Ben kenapa dia bisa sampe suka sama Sarah, sejak kapan, apa yang ada di pikirannya. Mungkin karena beberapa bulan ini saya selalu baca novel yang diceritakan dari sudut pandang orang ketiga (penulis), jadi saya selalu tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan kedua belah pihak. Dan begitu baca novel gaya begini (ala chicklit dan metropop), saya harus beradaptasi lagi nih. Tapi abis baca novel ini saya jadi kangen dan pengen baca novel-novel semacam ini, terjemahan atau lokal. *belagu abis lama banget baca novel berbahasa Inggris terus. Hihihihihi....

My english review (which was written in a shorter descriptions because I didn't know how to describe it) can be read on Goodreads.


Thursday, January 3, 2013

Review (in Indonesian): Beneath The Veil and Paradise by Kate Hewitt



Having a passionate affair on a desert island was not something Millie Lang ever thought she'd do...Since tragedy struck her life, Millie has cocooned herself in her work, leaving no time to think or feel. 

Chase Bryant has his own reasons for escaping it all. As long as they both know this paradise is just for one week with no messy emotions all should be fine. But neither of these two damaged souls is ready for the Pandora's Box of emotions that their intense passion unleashes...

(Sinopsis diambil dari Goodreads)

Format: e-copy (provided by Harlequin via Net Galley)
Jumlah Halaman : 192 halaman
Penerbit : Harlequin (18 Desember 2012)
Bahasa : Inggris
Genre : Kontemporer



Awal membaca buku ini, saya nggak terlalu semangat. Kok kayaknya bakal klise ya, cewek kaku ketemu cowok playboy. Beberapa bab berikutnya, saya juga masih biasa aja. Juga sempat berpikir, ini cewek segitu putus asanyakah sampe menawarkan perjanjian semacam itu? Dan si cowok ini nyebelin banget sih pake maksa cara kayak gitu, dan ya kok ceweknya nurut aja?
Tapi namanya juga cerita, dan saya juga gak bisa bilang bahwa saya nggak akan seperti itu kalo dalam situasinya Millie. Siapa tau kalo ketemu cowok cakep menggiurkan nan tampan (dan tajir!) saya malah lebih parah daripada Millie. Hahahahaha... Saya juga cukup terhibur sama nama tokoh cowoknya, Chase. Pssst... meskipun William Shakespeare pernah bilang, "Apalah arti sebuah nama?", buat saya itu cukup penting, dan cukup menentukan apakah saya akan suka ato malah males sama tokohnya.
Yak, balik ke Chase dan Millie, saya agak sempat bertanya-tanya, ini kapan 'tidur' barengnya ya? Kok cuma main-main and jalan-jalan aja? Dan ketika akhirnya pertanyaan saya terjawab, saya bisa ngerti sih kenapa Chase (dan Millie juga) jadi menarik diri. Nah, di sinilah menurut saya baru terasa serunya. Emosinya benar-benar main. Naik turun seperti rollercoaster. Dan waktu akhirnya Chase dengan sukses menanyakan pertanyaan yang tepat, saya sukses ikutan menitikkan air mata seperti Millie  yang langsung nangis. Huhuhuhu... sediiiiiiih...

Soal karakter, menurut saya baik Chase dan Millie cukup tergambarkan dengan baik. Meskipun mungkin masih agak kurang detil atau mendalam, tapi untuk novel setebal 192 halaman, emosi dan karakter mereka bisa terasa oleh pembaca. 

Dan jujur, saya kurang suka sih sama cerita-cerita di mana tokoh-tokohnya langsung merasa bahwa mereka mencintai si pasangan/lawan jenis padahal baru ketemu 4 hari. Mungkin karena saya penganut temen-jadi-demen atau witing tresno jalaran soko kulino (cinta tumbuh karena terbiasa) yang membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama. Hitungan minggu masih saya maklumi. Tapi hari?
Mungkin cinta itu tumbuh di antara Chase dan Millie karena selama 4 hari mereka intens bersama terus, dan langsung main tebak emosi yang bisa membuat mereka jadi membuka diri terhadap satu sama lain (meskipun mereka sebetulnya nggak pengen). Tapi mungkin efeknya jadi kayak ketemu psikolog kali ye? Kadang orang asing adalah tempat yang tepat buat curhat. 
Anyway, khusus buat Chase dan Millie, ketidaksukaan saya bisa saya hilangkan. Saya juga suka sama endingnya. Simpel tapi manis. Love it!

Dan saya bingung, antara mau kasih rating 4 atau 5 bintang!
Dan (lagi) ngomong-ngomong, ini bakal ada lanjutannya nggak ya? Soalnya dua kakak laki-laki Chase belum merit. :D 


Monday, October 15, 2012

Dating and Other Dangers by Natalie Anderson


Nadia Keenan's first date Do's and Don'ts:
1. Do boost your confidence by looking hot2. Don't put out until at least date two
3. If the man is trouble (however sexy!) do report all onwww.WomanBWarned.com

After being trashed on Nadia's website, serial dater-and-dumper Ethan Rush is about to put Nadia's rules to the test. He's determined to change her mind about him. She's determined to prove him for the cad he is.
Let the battle of the dates begin.…

Edisi : Softcover (paperback)
Jumlah Halaman : 192 halaman
Penerbit : Harlequin (2 Oktober 2012)
Bahasa : Inggris
Buy This Book from Book Depository, Free Delivery World Wide

Waktu memutuskan membeli buku ini, saya nggak mikirin sinopsisnya, tapi mikirin covernya. Soalnya modelnya Paul. Jadi langsung beli. :D

Anyway, cerita ini tentang Nadia yang menjadi fasilitator sebuah forum online yang membahas soal kencan, laki-laki dan seputar itu. Selain jadi fasilitator, Nadia juga memberikan tips-tips seputar hal-hal tersebut. Sampai suatu hari ada seorang anggota yang menyebut nama Ethan Rush yang kemudian disebut Mr. 3 Dates and You’re Out. 
Waktu tau namanya disebut-sebut secara memalukan di internet dari adik perempuannya, Ethan marah. Dia melacak keberadaan Nadia, mendatangi kantornya, dan langsung memberi ancaman akan melaporkan ke perusahaan tempat Nadia bekerja. Nadia gak mau, terus Ethan malah kasih tantangan ke Nadia untuk kencan 3x dengan Ethan. Nadia pun setuju. Well, it's just a game, right?

Sebelum acara kencan dimulai, Ethan bikin postingan blog untuk membela dirinya, dan mengumumkan pada dunia (via internet tentunya) bahwa dia menantang si fasilitator (yang saat itu masih anonim) untuk kencan. Nadia nggak mau kalah, dia pun ngepost blog untuk bilang dia nerima tantangan itu. 

Ya sud, dimulailah acara kencan tersebut. Two can certainly play the game

Awal mula baca ini, saya nggak terlalu antusias sih. Saya termasuk orang yang tertutup. Jadi ngebaca postingan Ethan yang secara terbuka mengumumkan tantangannya, er ... buat saya jadi berasa nonton reality show gitu, and I'm not really into it. Saya suka baca blog orang, tapi kok saya kayaknya nggak nyaman ya sama yang namanya perang antar blog? Juga kalo pacar saya suka ngeblog and ngebahas soal hubungan kami di internet? Kalo saya, well, saya kan cewek. Butuh curhat dan berbagi lebih banyak, so I think it's fine. It's okay for me, not okay for him. Hahahahaha.... *egois

Tapi, tulisan-tulisan Nadia dan Ethan cukup membuat saya penasaran. Begitupun hubungan mereka. Saya yang tadinya agak nggak nyaman (kalo ngebandingin ama kehidupan nyata sendiri lho), jadi penasaran untuk terus baca. Buat saya pribadi sih, dari 3 tantangan itu, Nadia jelas kalah. Hihihihi...  Agak gregetan dan sempet berharap dia tetap bertahan sama aturan mainnya sendiri. 

Intinya, buku ini beda dari seri Harlequin  yang biasa saya baca. Ethan memang kaya, tapi nggak digembor-gemborkan seperti tokoh pria di kebanyakan novel roman. Ini agak mendekati chicklit kali ya. Cerita roman jaman sekarang, yang banyak melibatkan dunia internet, berikut blog, jaringan sosial dan semacamnya. 
Selain itu, buku ini seru, melebihi harapan saya. Dialog-dialognya ringan dan cerdas, bikin saya senyum-senyum sendiri. Dan adegan ehem-ehemnya, wew ... saya mendadak butuh es krim biar agak adem. ^^
Agak kecewa sih ketika mereka akhirnya sama-sama bilang I Love You terus langsung berlanjut ke hubungan intim, seolah itu demi menunjukkan rasa cinta mereka. Padahal kan nggak harus begitu. :(

My favorite parts:
- Kencan kedua, waktu Nadia dateng ke taman pake rollerskate. Olahraga emang bikin panas. *uhuk!
- Waktu Ethan pagi-pagi jemput Nadia berangkat kerja pake sepeda dan membuat 'pidato' cukup panjang kenapa dia bela-belain dateng pagi-pagi. So sweet!

Menurut saya, nggak nyesel beli buku ini meskipun awalnya seolah seperti membeli kucing dalam karung. Love it!


Thursday, September 27, 2012

Lady Gone Bad by Sabine Starr

The saloon singer known as "Lady Gone Bad" is the most drop-dead gorgeous outlaw the West has ever seen. Lady has never met a cowboy she couldn't entice, or a lawman she couldn't outrun. But when Lady tangles with a sexy U.S. Marshall, she's tempted to stick around long enough to watch him lay down the law - in her bed. 


U. S. Marshall Rafe Morgan wants to lock up Lady Gone Bad for good - and he won't let his attraction to her slow him down. But when his attempt to bring Lady to justice goes awry, Rafe is nearly hanged - and by dawn, his face is plastered next to hers on every "Wanted" poster in Texas. 


Now on the run together, Rafe and Lady find themselves in very close quarters - and even more compromising positions. As Lady surrenders to Rafe's touch, she slowly begins to reveal all her secrets - including her real name. Maybe "Lady Gone Bad" isn't beyond redemption after all. Either way, Rafe is in for one wild ride...

Buy This Book from Book Depository, Free Delivery World Wide


Paperback, 304 halaman
Penerbit : Brava
Terbit 28 Agustus 2012
Bahasa Inggris

Wow! Itu yang pertama kali muncul di pikiran saya waktu melihat sampulnya pertama kali. Saya suka banget. Alasannya, karena suka cowboy. :D
Didukung warnanya yang pas banget, merah dan coklat, saya langsung kebayang perjalanan di tengah padang rumput di siang hari dan sore hari. Panas, tapi juga menjelang matahari terbenam. Selain itu, judulnya menarik perhatian saya. Jadi, cuma berbekal karena suka cover dan judul, (dan juga sinopsis tapi itu nggak jadi alasan kuat banget), saya beli buku ini.

Ceritanya sih terbilang cukup familiar ya. Seorang penyanyi wanita cantik yang reputasinya terkenal, cerdas, berani, dan diduga terlibat secara hukum. Prianya? Aparat hukum yang ganteng, tinggi, macho, cerdas, gentleman, berkarakter kuat namun luluh begitu liat si cewek.
Ketika akhirnya mereka berdua saling bertemu, mulai deh terlibat ini itu, dibumbui sama reaksi-reaksi kimia yang membuat keduanya kaget dan nggak nyaman. Tau kan, perasaan aku-tidak-pernah-merasakan-hal-ini-dengan-orang-lain-sebelumnya?

Anyway, baca ini berasa banget nonton film ala Hollywood. Udah ketebak sih endingnya, tapi tetep aja saya menikmatinya. Agak-agak nggak suka sama adeknya Rafe yang katanya guru yang pemalu dan pendiam. Tapi pas dia muncul, kesan itu nggak ada sama sekali. Nggak heran juga sih kalo Rafe agak syok dengan perubahan sikap adiknya. Dan nggak nyangka juga sih akhir cerita adeknya gitu, dan ternyata itu yang justru akan dibahas di buku kedua, Angel Gone Bad.
Nggak sabaaaar ...

Khusus buat buku ini saya kasih bintang 4 buat segi cerita dan karakter. Tapi karena saya suka sama cover dan judulnya, saya kasih 5 deh. ^^



Friday, September 21, 2012

Within Reach by Sarah Mayberry

Being a single dad was never on Michael Young's agenda. Yet with the sudden loss of his wife, that's exactly the role he has. On his best days, he thinks he can handle it. On his worst… Luckily, family friend Angie Bartlett has his back, easily stepping in to help out.

Lately, though, something has changed.

Michael is noticing exactly how gorgeous Angie is, and how single she is. She's constantly in his thoughts and he feels an attraction he never expected. Does he dare disrupt the very good thing they have going? If they have a fling that goes nowhere, he stands to lose everything—including her. But if they make it work, he stands to gain everything!

5 bintang ( * * * * * )


Buy This Book from Book Depository, Free Delivery World Wide

Saya suka banget sama buku-bukunya Sarah Mayberry. Well, nggak semuanya saya kasih bintang 5, tapi secara keseluruhan, saya suka sekali. Baik itu yang Super Romance, atau yang Blaze. Ceritanya cukup sederhana, tapi dalam. Dan yang paling penting buat saya adalah membumi dan masuk akal, dalam arti kita pun bisa mengalami kejadian semacam itu di kehidupan kita. Jatuh cinta sama temen, sahabat? Kenapa nggak? Itu sebabnya saya suka banget sama tema temen-jadi-demen. :)
Within Reach pun nggak jauh dari situ. Angie dan Michael saling jatuh cinta setelah mereka kenal sekian lama. Meskipun awalnya nggak terlalu dekat, sebatas karena ada penghubung, yaitu Billie. Sedikit banyak, sinopsisnya mengingatkan saya pada Sarah's Child-nya Linda Howard. Bedanya, di Sarah's Child, anak istrinya Rome meninggal semua. Sementara di Within Reach, yang meninggal cuma istrinya Michael.

Apa yang nyangkut setelah baca ini?

  • Perasaan bersalah dan denial itu masuk akal. Seandainya saya ada di posisi Angie atau Michael, saya juga pasti akan merasakan hal yang sama. Pertanyaannya, apa saya bakal berani ambil resiko ya? 
  • Saya nggak bisa nahan air mata waktu mereka berempat (Michael, Angie dan 2 anak Michael) ke kuburan Billie di ulang tahun Billie, dan Eva (anak pertama Michael) bilang, "I love you, Mummy. I think about you every day." Huhuhuhuhuhu.... 
  • Bahwa Eva minta ijin ke Michael dulu pas mau main iPad. Jadi inget keponakan-keponakan saya yang kebablasan main karena ortunya nggak ngelarang sehingga ketika sedang berkumpul dengan keluarga pun mereka sibuk main dengan gadget dan nggak berinteraksi dengan orang lain. Jadi terinspirasi kayak Michael untuk anak-anak saya nanti. :D
Buat saya, Sarah Mayberry ini must-have-item. Romannya nggak terasa picisan atau terlalu gombal. Saya bisa merasakan suasana kekeluargaan, kehangatan baik itu antara anak dan ortu atau antara pasangan. Konfliknya sederhana, tapi digambarin sedemikian rupa supaya emosi dan intensitasnya terasa. Jadi nggak sabar untuk baca buku-bukunya yang lain. Sayangnya, setahu saya belum ada buku-bukunya dia yang diterjemahkan di Indonesia.

Thursday, August 2, 2012

Sebelum Natal Berakhir (Home in Time for Christmas) by Heather Graham


Kayaknya ini buku pertama Heather Graham yang aku baca. Pertamanya baca versi Inggrisnya di tahun 2011, tapi cuma sekitar seperempat buku, then I stopped. Entah kenapa, waktu beberapa hari lalu ke toko buku, dorongan untuk membeli buku besar, dan aku nyomot ini.
Nggak benar-benar baca ulang, cuma scanning aja, dan mulai baca serius lagi setelah sampe di bagian aku berenti sebelumnya.
If you're looking for something hot and steamy, you got yourself the wrong book. Dari covernya aja udah jelas, lagi musim salju. Jadi dingiiiiin... Hihihihi...
Anyway, buat yang lagi pengen bacaan sederhana, simpel, manis dan menenangkan, ini bagus (menurut saya). Ada sih bagian-bagian yang agak membosankan, terutama di bagian-bagian awal, atau mungkin agak membingungkan karena too much dialogue. But then again, ini pas banget menggambarkan keluarga Melody yang rame dan agak ajaib. Jadi ibaratnya kita berada di ruangan yang sama dengan mereka, leher/mata/kepala kita akan capek nengok kanan-kiri tek-tok karena mereka semua banyak bicara dan saling menimpali. Tapi saya suka dengan kedekatan dan kehangatan keluarga Melody.

Ngomongin soal tokoh hero-nya, Jake Malorry, jangan mengharapkan cowok super dominan tipe alpha seperti Jorlan di Stone Prince-nya Gena Showalter ya. Jauh banget karakternyaaaaa... Dan saya bisa bilang bahwa rasa jatuh cinta antara Jake dan Melody terasa murni dan manis. So sweet...

Cerita ini mulai seru waktu Mark, cowok yang pdkt ke Melody dateng, bikin Melody serba salah dan Jake agak kaget, tapi tetap bersikap tenang dan gentleman. *duh, jadi pengen meluk Jake. Kalo di novel2x lain, udah bisa dipastikan si tokoh hero akan jadi posesif dan 'menggigit' saingannya.

Lebih seru lagi waktu keluarga Melody ketangkap basah mau memulangkan Jake tanpa melibatkan Melody, dan Mark tau-tau muncul juga di situ. Seru... ngebayangin kelempar sana dan ke sini. Saya ikut terenyuh waktu Mona (ibunya Melody) langsung jatuh lemas waktu dia pikir dia nggak akan pernah ketemu Melody lagi gara-gara lubang hitam itu.

Jadi mikir, jadi sebetulnya Serena dan Mark bisa terus2xan mengabari kehidupan mereka di abad lampau ya dengan nyelipin surat di selipan batu perapian. Update status ala Serena dan Mark di tahun 1776. Hihihihihi...

Monday, July 30, 2012

Gena Showalter - Wicked Nights



Horeeee... Akhirnya baca dan selesai juga.
Sebetulnya saya bukan pecinta genre paranormal, malah nggak terlalu tertarik sebetulnya. Sampe sekarang pun nggak. Tapi kadang-kadang cover dan judulnya sangat menggoda, jadi tertarik juga. Meskipun sampe sekarang jumlah buku yang udah saya baca dari genre ini masih bisa dihitung dengan jari. 


Anyway, karna dari dulu gak trlalu suka novel science-fiction/fantasy dan semacamnya, saya butuh waktu lebih lama untuk mencerna nama-nama, kejadian dll yang tidak familiar. Apalagi karna sebelumnya pernah baca buku seri LotU (Lords of the Underworld) yang pertama (dan satu-satunya), The Darkest Night (jangan tanya judul bahasa Indonesia-nya ya. Saya nggak pernah hafal), saya mencoba mengingat-ingat jenis-jenis dan peran berbagai makhluk yg ada.
Karena saya juga suka cuek ama riviu orang, bahkan sama bahasan si penulis sendiri tentang buku yang ditulisnya, saya nggak ngeh kalo buku ini masih nyambung (spin-off) dari seri LotU. Baru ngeh di halaman 241 (eaaaa... telat beneer) pas Paris muncul. Itupun jg gak lgsg konek. Masih pake acara mikir, 'Paris? Demon of Promiscuity? Paris? Sounds very familiar. Hmm...' 
Jeda beberapa detik, lalu, TING!! Ya ampun, Paris-nya LotU bukan ya?!
Dan di beberapa halaman kemudian muncullah tokoh-tokoh lain yg saya kenal di LotU. Amun, Anya, mmm... siapa lagi yak? Padahal saya juga belum baca buku-buku yang menceritakan tentang mereka sih, tapi ya udah familiar dikitlah dengan nama-nama itu.

Anyway, butuh waktu beberapa hari untuk saya membaca dan menyelesaikan buku ini. Yes, saya kalo baca amat sangat dihayati dan tergantung mood. Harus saya akui buku ini lumayan, saya suka. Plot cerita dan karakter-karakternya cukup kuat (buat saya lho)... saya suka sama Annabelle, dan dialog-dialog serta interaksinya dengan Zacharel.
Saya nggak sabar baca cerita tentang Thane, tapi harus bersabar, karena di buku berikutnya yang diangkat adalah si Koldo.

Tapi, kenapa endingnya agak mirip sama The Darkest Night yak? :p



NOTE: Salah satu alasan saya beli buku ini (padahal nggak doyan paranormal) adalah karena covernya. Body cowoknya itu lhooo... nggak nahaaaaaaaan... 

Bintang 4 deh buat buku ini. ^^