Showing posts with label reviews. Show all posts
Showing posts with label reviews. Show all posts

Sunday, April 7, 2013

Review: Menaklukkan Hati Sang Marquis oleh Julia Quinn


Edisi: Paperback, 448 halaman
Tanggal Terbit: April 2011
Penerbit: Dastan Books 
ISBN139786028723794
Bahasa: Indonesian
Judul Asli: How to Marry a Marquis (diterbitkan pertama kali 9 Maret 1999)

Elizabeth Hotchkiss harus menikah secepatnya dengan seorang laki-laki kaya. Sebagai saudara perempuan tertua dengan tiga adik masih kecil, ia harus bekerja keras untuk membiayai kebutuhan keluarganya sejak kedua orangtuanya meninggal. Namun, kebutuhan mereka semakin lama semakin meningkat sehingga ia tidak tahu lagi harus mendapatkan uang dari mana. Elizabeth lalu memutuskan bahwa satu-satunya cara adalah menikah dengan bangsawan yang kaya.


Sementara itu James Sidwell alias Marquis of Riverdale, diminta datang oleh bibinya yang kebetulan merupakan majikan Elizabeth, untuk menyelidiki suatu kasus kekerasan. James datang dengan menyamar sebagai pengurus properti. Ia menerima undangan bibinya karena ingin melarikan diri dari gadis-gadis yang mengejarnya di London. Selama ini, James beranggapan tidak ada wanita yang mampu membuatnya tertarik. Namun, semua itu langsung berubah sejak pertama kali ia melihat Elizabeth. James langsung terpukau dengan kecantikan dan kebaikan hati Elizabeth sekaligus lidah Elizabeth yang tajam yang entah bagaimana sekaligus membuatnya terpikat. Di lain pihak, seumur hidupnya baru kali ini Elizabeth bertemu dengan seorang laki-laki setampan James. Setiap kali berdekatan dengan James, jantungnya selalu berdebar-debar. Namun, Elizabeth tidak bisa jatuh cinta pada James, karena James mengaku sebagai laki-laki miskin.



Setelah jati diri James yang sebenarnya terkuak, apakah Elizabeth masih mau menerima James yang sudah membuatnya merasa tertipu dan tersakiti dengan penyamaran pria itu selama ini? Dan apakah tekad James cukup kuat untuk meyakinkan Elizabeth agar mau menikah dengannya?


REVIEW SAYA:
Setelah sukses menyelesaikan buku pertamanya, saya langsung penasaran baca dan melanggar janji membacanya kalo udah berhasil menyelesaikan laporan. Duh!

Jadi cerita dimulai seperti sinopsis di atas, dan ini merupakan salah satu tema favorit saya, yaitu ketika di mana salah satu tokoh berpura-pura menjadi orang lain. :)
Karena sudah lama nggak baca buku-bukunya JQ, saya benar2x lupa siapa itu Lady Danburry yang namanya sangat familiar. Tentu saja saya mengenal William Dunford, nama itu juga familiar, meskipun saya nggak tau persis dia muncul di novel yang mana. Jangan-jangan saya udah baca tapi nggak inget?

Anyway, saya suka banget dengan ide buku merah itu. Bagaimana Susan, adik Elizabeth (alias Lizzie), dengan bijaksana meminta Lizzie untuk benar-benar memraktekkannya. Padahal dia baru umur 14 tahun. Yah, kemudian ceritapun mengalir, dan saya suka dengan interaksi antara James dan Lizzie. Lagi-lagi, dialog yang cerdas (dan cepat) antara tokoh-tokoh, termasuk tokoh tambahan selain Lizzie dan James membuat saya sempat keteteran mengikutinya.

Baca buku kedua tentang James dan Lizzie jauh lebih cepat dan dibandingkan buku tentang Caroline dan Blake. Saya jauuuuuuh lebih menyukai karakter Lizzie dibanding Caroline. 

Secara keseluruhan, saya suka dengan semua karakter di buku ini, kecuali ... Caroline. Duh, perasaan saya ke Caroline antara pengen ketawa dan sebel. Saya jadi merasa bisa merasakan kekesalan James waktu Caroline bolak-balik nyeletuk. Jadi sementara orang-orang merasa buku satu lebih seru (karena emang situasinya amat sangat ajaib dan konyol, ditambah karakter Caroline yang bebas lepas dan cenderung impulsif), saya justru lebih suka dengan pasangan James dan Elizabeth. Tapi bener sih, seperti kata temen-temen, kemunculan Blake dan Caroline di sini bikin suasana jadi lebih rame. 

Saya kagum banget sama tokoh Elizabeth yang sangat setia dan sayang pada adik-adiknya. Kagum pada usaha dan kepeduliannya. Keterbukaannya mengenai masalah keuangan terhadap adik-adiknya yang, untungnya, bisa ikut menyikapi dengan bijaksana. Di tengah situasi seperti itu, saya melihat Lizzie tetap tegar, tetap positif dan bisa membuat adik-adiknya juga tetap positif. Saya bisa mengerti kekesalan James ketika Elizabeth mempertahankan harga dirinya dan menolak wesel pemberiannya, meskipun itu mengorbankan kesejahteraan adik-adiknya. 

Saya kasih bintang 4 (meskipun saya punya feeling seandainya saya baca edisi asli bahasa Inggrisnya adalah sangat mungkin saya memberi bintang 5).



Review: Memikat Sang Pewaris dari Julia Quinn


Caroline Trent sejak kecil harus tinggal berpindah-pindah dengan wali yang berbeda. Wali terakhirnya adalah seorang laki-laki yang tamak sehingga Caroline memilih untuk melarikan diri pada suatu malam. Namun, ia tidak menduga kalau malam itu adalah malam yang mengubah hidupnya selamanya.

Blake Ravenscroft adalah agen pemerintah yang menyelidiki kasus mata-mata. Ia memiliki masa lalu yang kelam serta memendam rasa sakit akibat ditinggal orang yang dicintainya sehingga ia menutup hatinya dan tidak pernah berpikir untuk menikah, sampai ia bertemu Caroline. Awalnya, Blake menyangka Caroline adalah mata-mata Napoleon. Ia menculik Caroline dan mengikatnya di tempat tidur. Setelah identitas Caroline terungkap, Blake menyadari kalau hatinya mulai goyah melihat Caroline yang riang dan polos. Sementara itu, Caroline mulai menyadari kalau dirinya jatuh cinta kepada penculiknya.

Penyelidikan Blake yang berbahaya tidak menggoyahkan keputusan Caroline untuk ikut membantu. Dan ketika nyawa Caroline terancam tepat di hadapannya, Blake pun harus menghilangkan trauma masa lalunya dan menyelamatkan Caroline sebelum semuanya terlambat...

REVIEW SAYA

Ini salah satu buku yang hampir selalu dielu-elukan teman-teman saya yang suka banget sama novel historical romance. Sebagai penggemar seri The Bridgerton-nya Julia Quinn, saya percaya bahwa novel ini bagus. Dan kocak, yang menurut saya salah satu kelebihan Julia Quinn.

Saya beli novel ini di tahun 2011, nggak inget bulan apa. Yang jelas, baru saya baca di bulan April 2013 setelah plastik segelnya dibuka ibu saya yang sudah selesai membacanya terlebih dahulu. Dan beliau mengeluhkan adanya cetakan yang salah, yaitu halaman 193-200-nya nggak ada, dan justru tergantikan sama isi novelnya Eloisa James. Jadi, sebagai pembaca, kita dipaksa mengira-ngira ada kejadian apa di antara bab 11-12.

Di awal buku, saya yang sudah lama nggak baca novelnya JQ langsung bisa merasakan kekhasan JQ dalam menggambarkan tokoh yang unik dan terkesan seenaknya sendiri. Well, Caroline emang beda. Setidaknya dari standard orang-orang di jaman itu, tapi nggak beda sama heroine-heroine. :D Anyway, bahkan ketika dia berdebat mulut dengan Percy, saya langsung inget bahwa yang bikin saya suka sama novel2xnya JQ adalah dialognya yang segar dan terkesan cepat, tapi ringan.

Ketika akhirnya Caroline bertemu Blake, yah, saya agak merasa aneh. Maksudnya, mengingat Blake adalah agen rahasia, harusnya sih suasananya bisa lebih sedikit dark. Tapi berkat karakter Caroline, semua jadi berasa konyol yang membuat saya jadi mikir, mungkin nggak siiiiiih??? Tapi saya menikmati interaksi dan dialog di antara mereka. Dan suasana jadi lebih seru begitu James, sahabat dan rekan kerja Blake, muncul. Dan lebih meriah lagi waktu Penelope, kakak perempuan Blake, juga datang berkunjung. Belum lagi tingkah konyol Perrwick, salah satu pelayan Blake. Berasa nonton film komedi.

Tapi niiiih ... tidak seperti saat membaca seri Bridgerton, saya merasa ada yang kurang. Dan cerita mereka nggak seseru yang selama ini dipromosikan teman-teman. Menurut saya, ada beberapa faktor yang memengaruhi penilaian saya ini:
  1. Saya dalam masa sedang mengejar tenggat pengumpulan tugas, yang berarti saya baca secepat mungkin karena penasaran tapi disertai rasa bersalah karena menyisihkan waktu buat baca novel. :D
  2. Apakah karena ini terjemahan? Bukannya sok bisa baca buku bahasa Inggris, tapi seringkali ada cerita-cerita yang lebih dapat 'feel'-nya pas pake bahasa aslinya.
  3. Gara-gara ada insiden kesalahan penjilidan yang membuat saya kehilangan sebagian cerita.
Tapi terlepas dari itu, saya menikmati buku ini, dan banyak bagian yang bikin saya nyengir-nyengir sendiri. Adegan intimnya nggak terlalu banyak, tapi menurut saya malah bagus, jadi sesuai dengan kepolosan Caroline, dan membuat hubungan mereka terasa manis, kayak permen kapas. ^^

4 bintang. Dan setelah berhasil menyelesaikan 1 laporan (padahal keseluruhan masih ada 5 laporan dan 1 proposal yang harus dikerjakan), saya pengen baca lanjutannya yang tentang James. Tapi lihat saja nanti. 


Friday, September 21, 2012

Within Reach by Sarah Mayberry

Being a single dad was never on Michael Young's agenda. Yet with the sudden loss of his wife, that's exactly the role he has. On his best days, he thinks he can handle it. On his worst… Luckily, family friend Angie Bartlett has his back, easily stepping in to help out.

Lately, though, something has changed.

Michael is noticing exactly how gorgeous Angie is, and how single she is. She's constantly in his thoughts and he feels an attraction he never expected. Does he dare disrupt the very good thing they have going? If they have a fling that goes nowhere, he stands to lose everything—including her. But if they make it work, he stands to gain everything!

5 bintang ( * * * * * )


Buy This Book from Book Depository, Free Delivery World Wide

Saya suka banget sama buku-bukunya Sarah Mayberry. Well, nggak semuanya saya kasih bintang 5, tapi secara keseluruhan, saya suka sekali. Baik itu yang Super Romance, atau yang Blaze. Ceritanya cukup sederhana, tapi dalam. Dan yang paling penting buat saya adalah membumi dan masuk akal, dalam arti kita pun bisa mengalami kejadian semacam itu di kehidupan kita. Jatuh cinta sama temen, sahabat? Kenapa nggak? Itu sebabnya saya suka banget sama tema temen-jadi-demen. :)
Within Reach pun nggak jauh dari situ. Angie dan Michael saling jatuh cinta setelah mereka kenal sekian lama. Meskipun awalnya nggak terlalu dekat, sebatas karena ada penghubung, yaitu Billie. Sedikit banyak, sinopsisnya mengingatkan saya pada Sarah's Child-nya Linda Howard. Bedanya, di Sarah's Child, anak istrinya Rome meninggal semua. Sementara di Within Reach, yang meninggal cuma istrinya Michael.

Apa yang nyangkut setelah baca ini?

  • Perasaan bersalah dan denial itu masuk akal. Seandainya saya ada di posisi Angie atau Michael, saya juga pasti akan merasakan hal yang sama. Pertanyaannya, apa saya bakal berani ambil resiko ya? 
  • Saya nggak bisa nahan air mata waktu mereka berempat (Michael, Angie dan 2 anak Michael) ke kuburan Billie di ulang tahun Billie, dan Eva (anak pertama Michael) bilang, "I love you, Mummy. I think about you every day." Huhuhuhuhuhu.... 
  • Bahwa Eva minta ijin ke Michael dulu pas mau main iPad. Jadi inget keponakan-keponakan saya yang kebablasan main karena ortunya nggak ngelarang sehingga ketika sedang berkumpul dengan keluarga pun mereka sibuk main dengan gadget dan nggak berinteraksi dengan orang lain. Jadi terinspirasi kayak Michael untuk anak-anak saya nanti. :D
Buat saya, Sarah Mayberry ini must-have-item. Romannya nggak terasa picisan atau terlalu gombal. Saya bisa merasakan suasana kekeluargaan, kehangatan baik itu antara anak dan ortu atau antara pasangan. Konfliknya sederhana, tapi digambarin sedemikian rupa supaya emosi dan intensitasnya terasa. Jadi nggak sabar untuk baca buku-bukunya yang lain. Sayangnya, setahu saya belum ada buku-bukunya dia yang diterjemahkan di Indonesia.

Thursday, August 2, 2012

Sebelum Natal Berakhir (Home in Time for Christmas) by Heather Graham


Kayaknya ini buku pertama Heather Graham yang aku baca. Pertamanya baca versi Inggrisnya di tahun 2011, tapi cuma sekitar seperempat buku, then I stopped. Entah kenapa, waktu beberapa hari lalu ke toko buku, dorongan untuk membeli buku besar, dan aku nyomot ini.
Nggak benar-benar baca ulang, cuma scanning aja, dan mulai baca serius lagi setelah sampe di bagian aku berenti sebelumnya.
If you're looking for something hot and steamy, you got yourself the wrong book. Dari covernya aja udah jelas, lagi musim salju. Jadi dingiiiiin... Hihihihi...
Anyway, buat yang lagi pengen bacaan sederhana, simpel, manis dan menenangkan, ini bagus (menurut saya). Ada sih bagian-bagian yang agak membosankan, terutama di bagian-bagian awal, atau mungkin agak membingungkan karena too much dialogue. But then again, ini pas banget menggambarkan keluarga Melody yang rame dan agak ajaib. Jadi ibaratnya kita berada di ruangan yang sama dengan mereka, leher/mata/kepala kita akan capek nengok kanan-kiri tek-tok karena mereka semua banyak bicara dan saling menimpali. Tapi saya suka dengan kedekatan dan kehangatan keluarga Melody.

Ngomongin soal tokoh hero-nya, Jake Malorry, jangan mengharapkan cowok super dominan tipe alpha seperti Jorlan di Stone Prince-nya Gena Showalter ya. Jauh banget karakternyaaaaa... Dan saya bisa bilang bahwa rasa jatuh cinta antara Jake dan Melody terasa murni dan manis. So sweet...

Cerita ini mulai seru waktu Mark, cowok yang pdkt ke Melody dateng, bikin Melody serba salah dan Jake agak kaget, tapi tetap bersikap tenang dan gentleman. *duh, jadi pengen meluk Jake. Kalo di novel2x lain, udah bisa dipastikan si tokoh hero akan jadi posesif dan 'menggigit' saingannya.

Lebih seru lagi waktu keluarga Melody ketangkap basah mau memulangkan Jake tanpa melibatkan Melody, dan Mark tau-tau muncul juga di situ. Seru... ngebayangin kelempar sana dan ke sini. Saya ikut terenyuh waktu Mona (ibunya Melody) langsung jatuh lemas waktu dia pikir dia nggak akan pernah ketemu Melody lagi gara-gara lubang hitam itu.

Jadi mikir, jadi sebetulnya Serena dan Mark bisa terus2xan mengabari kehidupan mereka di abad lampau ya dengan nyelipin surat di selipan batu perapian. Update status ala Serena dan Mark di tahun 1776. Hihihihihi...

Monday, July 30, 2012

Gena Showalter - Wicked Nights



Horeeee... Akhirnya baca dan selesai juga.
Sebetulnya saya bukan pecinta genre paranormal, malah nggak terlalu tertarik sebetulnya. Sampe sekarang pun nggak. Tapi kadang-kadang cover dan judulnya sangat menggoda, jadi tertarik juga. Meskipun sampe sekarang jumlah buku yang udah saya baca dari genre ini masih bisa dihitung dengan jari. 


Anyway, karna dari dulu gak trlalu suka novel science-fiction/fantasy dan semacamnya, saya butuh waktu lebih lama untuk mencerna nama-nama, kejadian dll yang tidak familiar. Apalagi karna sebelumnya pernah baca buku seri LotU (Lords of the Underworld) yang pertama (dan satu-satunya), The Darkest Night (jangan tanya judul bahasa Indonesia-nya ya. Saya nggak pernah hafal), saya mencoba mengingat-ingat jenis-jenis dan peran berbagai makhluk yg ada.
Karena saya juga suka cuek ama riviu orang, bahkan sama bahasan si penulis sendiri tentang buku yang ditulisnya, saya nggak ngeh kalo buku ini masih nyambung (spin-off) dari seri LotU. Baru ngeh di halaman 241 (eaaaa... telat beneer) pas Paris muncul. Itupun jg gak lgsg konek. Masih pake acara mikir, 'Paris? Demon of Promiscuity? Paris? Sounds very familiar. Hmm...' 
Jeda beberapa detik, lalu, TING!! Ya ampun, Paris-nya LotU bukan ya?!
Dan di beberapa halaman kemudian muncullah tokoh-tokoh lain yg saya kenal di LotU. Amun, Anya, mmm... siapa lagi yak? Padahal saya juga belum baca buku-buku yang menceritakan tentang mereka sih, tapi ya udah familiar dikitlah dengan nama-nama itu.

Anyway, butuh waktu beberapa hari untuk saya membaca dan menyelesaikan buku ini. Yes, saya kalo baca amat sangat dihayati dan tergantung mood. Harus saya akui buku ini lumayan, saya suka. Plot cerita dan karakter-karakternya cukup kuat (buat saya lho)... saya suka sama Annabelle, dan dialog-dialog serta interaksinya dengan Zacharel.
Saya nggak sabar baca cerita tentang Thane, tapi harus bersabar, karena di buku berikutnya yang diangkat adalah si Koldo.

Tapi, kenapa endingnya agak mirip sama The Darkest Night yak? :p



NOTE: Salah satu alasan saya beli buku ini (padahal nggak doyan paranormal) adalah karena covernya. Body cowoknya itu lhooo... nggak nahaaaaaaaan... 

Bintang 4 deh buat buku ini. ^^

Saturday, March 17, 2012

The Fine Art of Truth or Dare



The Fine Art of Truth or Dare 

Ella is nearly invisible at the Willing School, and that's just fine by her. Still, it's hard being a nobody and having a crush on the biggest somebody in the school: Alex Bainbridge. Especially when he is her French tutor, and lessons have started becoming, well, certainly more interesting than French ever has been before.
(diambil dari Goodreads)

Pertama kali liat covernya, saya langsung jatuh cinta. Saya bukan penyuka buku-buku remaja (Young Adult, teenlit), kalopun baca hanya judul-judul tertentu hasil rekomendasi orang yang tentu saja modal pinjem. Demam Twilight agak-agak bikin saya males. Jadilah saya nggak pernah benar-benar tertarik.
Tapi gara-gara ngeliat cover buku ini, saya langsung tertarik. Dari sinopsisnya sih saya nebak ini ceritanya bakal standard. Tapi ya udah kadung naksir sama covernya, saya beli deh. Jadi ini buku remaja saya yang pertama saya beli dengan sangat antusias, setelah bertahun-tahun nggak tertarik lagi sama buku remaja. (Buku remaja lain kayak GirlTalk juga banyak, tapi itu udah jadul banget. Hehehehe...
Begitu buku ini ada di tangan, nggak peduli betapa antrian buku yang harus dan sedang dibaca sudah panjang, semua saya singkirkan demi buku ini. Bahkan saya sampe bawa ke kampus (dan logikanya nggak mungkin juga baca karena pasti bakal padat mengerjakan tugas).
Dan sudah selesai membacanya.
Kesannya: Biasa aja. Dari segi cerita, karakter, dan alur semua terasa biasa. Tapi dari ke'biasa'annya itu saya cukup menikmati. Ceritanya simpel, manis dan nggak ribet. Semuanya khas cerita remaja kebanyakan deh. Si tokoh cewek, Ella, termasuk anak nggak gaul tapi pinter, si tokoh cowok, Alex, masuk golongan orang tajir keren pintar dan aktif. Ada karakter para sahabat yang juga setipe sama tokoh utama, tokoh cewek populer tapi judes dan sombong yang jadi saingan, dll. 
Adegan-adegannya juga udah bisa ditebak, adegan canggung dan memalukan yang melibatkan Ella, Alex atau Amanda (si cewek populer), first moment Ella bisa ngobrol sama Alex atau pergi bareng Alex, first kiss. Semua yang biasa ditemuin di cerita remaja (baik novel dan film) ada di sini. :D
Yang saya suka:
  • Saya suka nama Alex. :D Jadi kenyataan bahwa nama tokoh utama cowoknya adalah Alex sudah membuat saya senang. Plus saya suka nama Leo, bonus deh kakaknya Ella namanya Leo. :D
  • Saya suka adegan Ella 'ngobrol' sama Edward Willing (baik ketika Edward berwujud patung atau gambar).
  • Saya suka adegan Alex dateng bareng kedua ortunya (selebriti terkenal) ke restoran milik keluarga dan kaget.
  • Saya suka adegan Alex nyium Ella pertama kali. ^^
  • Saya suka adegan yang menggunakan setting restoran Italia milik keluarga Ella, lengkap dengan menu-menunya yang sukses bikin saya ngiler jadi pengen makan makanan Italia.
  • Most of all, saya suka covernya, jadi alih-alih cuma kasih nilai 3 atau 3, 5, saya kasih 4 bintang deh. ^^

Saturday, January 21, 2012

Pertemuan Kembali (One Foot in the Grave)

Penasaran baca lanjutannya karna pengen tau seperti apa reuniannya Cat dan Bones. 
Bela-belain pinjem (yah, pinjem aja) saking penasarannya. Sebetulnya, karna saya pecinta spoiler, saya udah sempet baca riviu orang-orang segudang jadi udah tau dalam situasi seperti apa mereka ketemuan lagi. Termasuk chapter 32 yang katanya melegenda tapi sempet bikin ilpil dan gak kepengen baca.
Tapi mengingat saya akan baca terjemahannya dan (hopefully) cukup disensor, saya menguatkan diri.
Dan ya, baca ini perasaan saya naik turun. At first, saya suka banget sama Cat. Kayaknya keren banget jadi komandan memimpin pasukan khusus di usia muda, padahal dia cewek. Another reason adalah dia punya tim spesial dimana dia dekat dengan mereka. Sebut aja Tate (saya kayaknya lebih naksir ama Tate dibanding Bones! Hahahahaha..), Dave dan Juan. Saya suka dengan cerita dimana ada ikatan pertemanan yang kuat. Belum lagi bos yang perhatian, Don, yang memang punya alasan kuat kenapa dia perhatian banget ama Cat. Makanya saya agak syok dan kecewa waktu Dave mati. Tapi untunglah ada Copper yang bisa dibilang menggantikan Dave.


Pertemuan kembali Cat dengan Bones menurut saya kurang dramatis. Terlalu kebetulan, dan biasa. :p Dan sayang aja porsi kemunculan Randy, jenius komputer yang cukup hebat menyadari bahwa Bones nggak bernapas dan notabene suami Denise (sahabat Cat) yang jadi pemegang kunci penting yang menghubungkan kembali Cat dan Bones, terbilang dikit. Padahal saya suka banget, ngebayangin cowok nerd tapi keren gitu. Hahahaha... :D


Dan ke belakangnya, Cat jadi agak menyebalkan. Yah, cemburu itu memang peluru ya. Bisa merusak. :p
Dan yah, saya sukses ilpil sama bab 'spesial' itu. Kenapa? Pertama, saya nggak suka motif mereka melakukannya. Ya ya ya.. tau sih dengan sifat posesif vampir yang butuh penegasan kepemilikan. Tapi dengan sengaja membiarkan orang--atau vampir--lain mengetahui ketika mereka melakukannya dengan heboh? Penting ya? Saya langsung inget sama temen yang pindah kos gara-gara penghuni kamar sebelahnya terlalu berisik ketika sedang 'itu'. 
Kedua, gigit-gigitan dan hisap-hisapan darah? Yah, like I had a choice. Ini kan cerita tentang vampir. Baca bagian berdarah-darah sambil diterpa angin AC yang dingin sukses bikin saya merinding. Hiiii...
Ketiga, mmm... ibaratnya, ada pintu yang bener, lewat situ aja deh. Sebut saya kuno, terserah. Khusus buat bagian itu, seromantis apapun tetep aja nggak banget. Mungkin ini efek pernah baca chapter tertentu di bukunya Tucker Max, I Hope They Serve Beer in Hell. Muahahahahaha... thanks to Veeta yang merekomendasi buku itu. Jadi pengen baca semuanya.
Saya juga nggak merasa permasalahan atau konflik dengan Ian dan segala rencana untuk ke arah situ seru. Malah menurut saya lebih seru waktu di buku pertama ibunya Cat diculik. 
And then they got married, just like that?? Hadeeeeeh ...


But then, I did have favorite parts.
Semua yang melibatkan keterkejutan vampir2x ketika mereka sadar Cat bukan segera manusia. Waktu Bones ngetes tim pasukannya Cat untuk ngecek siapa pengkhianat di dalam. Semua adegan yang melibatkan Tate. Hehehe... Daaaaan ... waktu Dave dihidupkan kembali. Meskipun saya nggak sampe nangis, saya sengaja berlambat-lambat baca di adegan itu. Suka bangeeeet ... Tapi (yoi, tetep ada tapi-nya), kok reaksinya Dave gitu doank???


Dilema mau kasih berapa bintang buku ini. Pengen kasih 4, tapi nggak rela sama sikap Cat yang menyebalkan kalo udah berhubungan ama cewek-cewek yang pernah berhubungan Bones (meskipun saya juga nggak bisa menyalahkan dia karena ada kemungkinan 99% saya merasakan--merasakan, bukan melakukan--hal yang sama dengan Cat) sama adegan gigit-gigitan sampe berdarah dan 'pintu belakang'.
What can I say, saya dipengaruhi banyak hal dalam menilai sesuatu ketika baca buku. Nggak objektif? Mungkin. Hihihihi...


Jadi penasaran, seandainya Cat jadi vampir dan hidup abadi sama Bones, bisakah mereka benar-benar menghabiskan waktu ratusan tahun ampe kiamat mencintai orang yang sama? Kok nggak kebayang ya? Hahahaha...

Saturday, January 14, 2012

Halfway to the Grave - Jeaniene Frost

Sampe detik ini saya masih agak nggak percaya saya baca buku dengan genre paranormal. Jujur, gara-gara demam vampir akibat Twilight, saya jadi males ama tema vampir.
Saya tau buku ini udah lama. Berbulan-bulan atau malah udah lebih dari setahun ya? Gara-garanya salah satu teman saya, Vita, senang banget waktu dia nemu buku ini. Dia bilang ini bukunya bagus banget, padahal dia, seperti saya, juga nggak terlalu suka sama vampir-vampiran. Mengingat saya dan dia seleranya sering mirip, pasti buku ini memang bagus. Tapi karena waktu itu emang nggak tertarik, saya nggak tergerak untuk membacanya.

Trus kenapa memutuskan baca? Karna saya ikut challenge.
Khusus bulan Januari, ada 3 pilihan:
1. Baca seri pertama dari penulis yang baru (belum pernah membaca buku-bukunya), atau
2. Baca roman di mana ada tokoh remaja yang jadi protagonis, atau
3. Baca seri roman erotis.

Eerrr .. pilihan nomor 3 langsung saya coret. Saya udah pernah baca beberapa roman erotis, yah, terlalu 'berat' buat saya. Dan saya nggak tau seri roman yang ada karakter remaja yang jadi tokoh protagonis. Jadi pilihan saya tinggal nomor 1. Tapi karena saya juga udah berjanji tahun ini nggak akan baca novel roman dalam format e-book, saya nggak kebayang mau baca apa karena koleksi buku-buku saya nggak ada yang dari seri pertama dari penulis yang belum pernah saya baca.
Untunglah buku-buku jualan titipan temen ada yang numpuk di kamar dan pas banget, Halfway to the Grave ada di tumpukan paling atas. AHA!
Jatuhlah pilihan saya pada buku ini.

Marilah kita mulai membahas bukunya, tentang Cat yang setengah manusia dan setengah Vampir.
Berbulan-bulan lalu sudah banyak teman saya yang heboh sama seri ini. Bahkan ada yang sampe pake nama Bones (tokoh utama cowok) untuk nama belakangnya.
Jujur, waktu awal-awal kemunculan karakter ini, saya nggak kebayang bahwa cowok itu adalah Bones. Nggak terlalu berkesan buat saya. Kecuali ketika dia tau-tau mendekati Cat bilang dia 'siap' malam itu.
Setelah berhalaman dan berbab saya baca, yah, saya masih belum terlalu konek sama Bones. Jujur, saya nggak bisa ngebayangin seorang Vampir bisa sangat keren dan 'hot'. Abis mereka kan selama ini digambarkan pucat dan dingin. :D
Satu-satunya yang bikin saya meleleh cuma karna Bones punya aksen Inggris dan sering nyebut 'luv' dan 'pet' ke Cat. Entah kenapa yg terbayang langsung Pierce Brosnan, Jonathan Rhys-Meyer dan sesekali Jude Law. But then again, mereka hidup dan keren. They're not vampire. :D
Dan Cat ... saya suka banget sama Cat. Meskipun masih muda (22 tahun), saya salut sama keteguhannya, keberaniannya. Terutama waktu dia nantangin Bones sampe babak belur. :))
Untuk hubungan mereka, yah, saya suka karena awalnya mereka murni kerja sama, partner, guru dan murid. Dan begitu Bones bilang 'I Love You', kok saya merasa terlalu cepet ya? Hehehehe...

Ada beberapa adegan kocak yang bikin saya nyengir atau ngakak. Misalnya waktu Cat pura2x ngaku Timmie (tetangga apartemennya) adalah pacarnya di depan ibunya (karena ibunya benci sama Vampir. Nggak bisa nyalahin karena dia korban pemerkosaan Vampir). Hahahaha ... itu kocak banget ngebayangin Timmie yang polos gitu.

Saya agak nggak suka sama endingnya, waktu Cat memutuskan untuk meninggalkan Bones. Membuat saya penasaran dan jadi pengen baca buku keduanya. Haduuuuuuuuuuuh ...

Saturday, December 3, 2011

The Darkest Night - Sang Kekerasan

***
My very first of Gena Showalter! Didn't think I'd ever read her book. Karena sejujurnya saya nggak tertarik baca novel dengan genre paranormal atau fantasi. Entah sedang dikuasai Iblis apa ketika memutuskan untuk baca dan beli buku ini. Lords of Buying-Books? :))

Jadi ada sejumlah kesatria yang sengaja membuka kotak Pandora, tempat menyimpan iblis-iblis. Niatnya mereka cuma memberi pelajaran pada dewa-dewa yang justru memilih Pandora, kesatria wanita, untuk menjaga kotak itu. Apa daya begitu dibuka iblis-iblis itu langsung merasuki para kesatria. Maddox, yang dirasuki Iblis Kekerasan, membunuh Pandora.
Akibat ulah mereka, dewa-dewa mengutuk mereka menjadi wadah bagi para iblis. Setiap kesatria dapet jatah satu iblis, dan kalo si iblis dalam diri mereka udah menguasai, ya sudlah, mereka harus berjuang mengendalikan diri. Iblisnya macem-macem. Ada sang Kekerasan, Amarah, Rahasia, Wabah, Kesakitan, Keraguan, Kepedihan, Kebohongan, Bencana, Berahi ... apalagi ya?

Sejauh ini yang paling menarik minat si Kesakitan, Kepedihan, Kebohongan (kalo ngomong pasti kebalikan dengan yang dimaksud), Rahasia, Bencana (menurutku ini kocak, kasiaaaan). Dengan segala macem sifat Iblis ini, gak heran kalo serinya (bakal) banyak. Hadeeeeeh ... nggak terlalu suka banget nget, tapi penasaran pengen cerita tentang yang lain.
Jadi kepikiran, kalo untuk versi sekarang, ketika seseorang gak bisa nahan diri untuk online, bbm-an, belanja, dll, jangan2x itu mereka juga dikuasai sang Internet, sang BBM dan sang Shopaholic. Hmpfh!

Back to buku ini, saya nggak terlalu merasakan chemistry antara Maddox dan Ashlyn, semua berjalan terlalu cepat. Bahkan adegan intimnya berasa cuma jadi bumbu dan tempelan. Nggak penting2x banget. Kalopun chemistry mereka bisa saya rasakan, tanpa adegan intim itu sudah bisa bikin emosi pembaca sedikit naik turun di ending pas Ashlyn berkorban demi Maddox. Saya malah jadi lebih tertarik Danika dan Reeyes. :D

*Yang bikin penasaran: karena emang suka banget seri yang berkesinambungan yang ada hubungan (temen ato sodara, tapi tidak ortu-anak), saya penasaran ama seri-seri berikutnya. Masih menimbang2x untuk beli ato cumi. Hihihihihi...

Kun Fayakuun 2

*****
My very first of Ust. Yusuf Mansur. 
Sebetulnya ngincer buku yang judulnya An Introduction to the Miracle of Giving gara-gara kesebut di salah satu postingan di blognya Ollie
Trus ngobrolin dan berencana beli buku itu sama Veeta. Waktu ke Gramed PIM, kami berdua nemu buku yang ini dan pas iseng buka2x halaman, pas banget kebuka di halaman yang memang diincar. Whoaaaa ... langsung deh kita beli (dan buku An Introduction to the Miracle of Giving juga), dan baca bareng. Tapi Veeta selesai duluan sih. 

Seperti kata Veeta, hampir sepanjang baca buku ini mata nggak pernah kering. Terharu, merinding, takjub, aduh, speechless deh. Jadi sadar betapa banyak dosa dan kekurangan, jadi sadar bahwa Tuhan sebetulnya sayang banget sama kita, bahwa Tuhan itu MAHA HEBAT BANGET!. 
Jujur, kalo ini buku biasa, saya mungkin agak terganggu dengan gaya penulisan dan bahasanya yang rasanya seperti transkrip dari ceramahnya yang tata bahasa dan tanda bacanya agak tidak beraturan. Tapi baca buku ini membuat saya bisa berpikir, jangan lihat siapa yang atau caranya menyampaikan, tapi lihat isinya. Dan indeed, ini bagus bangeeeeet. >.< 
Dan buka di halaman berapa aja, selalu ada yang bisa saya pelajari dari situ. 

Very very recommended ... buat yang pengen membenahi diri. Kasih bintang 5 deh!