Showing posts with label seri. Show all posts
Showing posts with label seri. Show all posts

Friday, August 29, 2014

Review : Sang Kesakitan (The Darkest Pleasure) - Gena Showalter

Sang Kesakitan (The Darkest Pleasure) 
(Lords of the Underworld #3)
oleh Gena Showalter

Paperback, 463 halaman
Dipublikasikan tahun 2011 oleh Violet Books (first published January 1st 2008)
Judul Asli : The Darkest Pleasure
ISBN : 139789790816060

Ia bisa menanggung kesakitan sehebat apa pun, kecuali takut kehilangan gadisnya.

Reyes adalah seorang pria yang dirasuki. Terikat oleh Iblis Kesakitan, kenikmatan adalah hal yang terlarang baginya. Sampai ia mendambakan seorang perempuan manusia, Danika Ford, melebihi kebutuhannya untuk bernapas dan akan melakukan apa pun untuk memilikinya-meski harus menantang para dewa.

Danika sedang dalam pelarian. Selama sebulan ia menghindar dari para Penguasa Dunia Kematian, kesatria abadi yang tak akan berhenti mengejarnya hingga dirinya dan seluruh keluarganya dimusnahkan. Tapi mimpi-mimpinya selalui dihantui oleh Reyes, kesatria yang sentuhan membaranya tak bisa dilupakan. Namun, kebersamaan mereka di masa depan berarti kematian bagi orang-orang yang mereka berdua sayangi.


OPINI SAYA:

Akhirnya.... saya melanjutkan kembali membaca seri LOTU dan kali ini gilirannya Reyes.
The great thing about book in series adalah dari satu buku, pembaca sudah dikasih petunjuk dengan siapa si anu (temannya si tokoh utama) akan berpasangan di buku-buku berikutnya. Nggak serunya, ya udah ketahuan. Apalagi kalau bacanya beberapa tahun setelah buku tersebut diterbitkan. Kita tinggal mengintip sinopsis buku-buku lanjutannya di Goodreads.

Membaca buku ini bikin saya (agak) merasa ngilu. Saya pembaca yang lambat, karena saya sering berusaha membayangkan apa yang digambarkan oleh penulis. Nah, jeleknya, ketika tiba di bagian bagaimana Reyes melukai dirinya, mulai dari menorehkan, menusuk, mengcungkil, memutar pisau di daging de el el, saya langsung berasa nyeri ngilu-ngilu gimanaaaaa gitu. Saya tahan melihat darah, tapi saya nggak tahan melihat luka berat (yang sampe dagingnya (atau yang lebih buruk, tulangnya) keliatan gitu. Hadeeeeh... saya ngetik ini aja langsung ngilu. Saya tahu harusnya saya skip saja atau baca cepat, tapi ya itu... kebiasaan untuk membaca detil dan membayangkan adegan sulit hilang.

Tidak seperti dua buku sebelumnya, saya merasa agak kesulitan mengikuti jalan ceritanya.  Mungkin karena semakin banyak tokoh yang muncul, plus waktu yang berjarak dari dua buku sebelumnya membuat saya sudah agak lupa mengenai detil persisnya.

Entah kenapa, saya tidak terlalu merasakan reaksi kimia antara Reyes dan Danika. Mungkin karena saya keburu ngilu-ngilu ngebayangin Reyes kalo lagi penuh luka ya. Di sini malah saya jadi makin tertarik sama Torin dan Paris, dan Kane. Aeron juga. Sempat berharap Aeron bakal jadi sama Legion (siapa tau gitu lho dia berubah jadi cewek cantik alih-alih makhluk botak bersisik. Hihihihihi...). Tapi udah ngintip di sinopsis buku tentang Aeron, dia dipasangkan dengan orang lain.


+++ 
  • Lebih detil tentang Paris dan Aeron. 
  • Jadi tambah penasaran sama Gideon. 
  • Mulai tertarik sama Kane.
  • Makin banyak tokoh muncul.
  • Seru ngebayangin kekuatannya Danika sampe jadi rebutan semua pihak.

- - -
  • Ngilu di bagian Reyes melukai dan menyakiti dirinya sendiri.
  • Ada beberapa penulisan/penerjemahan yang agak membingungkan karena kata "dia" dan "-nya" tidak secara jelas mengacu ke siapa.
  • Kalo nggak inget-inget banget sama dua buku sebelumnya, jadi agak meraba-raba tentang siapa ini, kenapa gini, kenapa gitu.

3.5 bintang buat buku ini. Tapi karena ada Gideon, Torin, Paris dan Kane... saya buletin jadi 4 bintang.

Wednesday, November 20, 2013

Review: Driving Her Wild (Wilinski's #3) by Meg Maguire

*KHUSUS DEWASA (18++)

Title : Driving Her Wild
Author : Meg Maguire
Series : Wilinski #3
Publisher : Harlequin
Published Date : 1 Januari 2013
Pages : 218
Genre : Adult, Contemporary Romance
Language : English

Winning is good. Succumbing is even better… 

Evasion 

Recently retired pro MMA fighter Steph Healy is through having rough-and-tumble romps with sexy blue-collar dudes. Unfortunately, Wilinski's Fight Academy has hired an electrician with a body built to make a gal weep. And avoiding some full-body contact is taking all of Steph's self-control. 

Grapple 

Carpenter-turned-electrician Patrick Doherty is damn good with his hands. Sure, he's not what Steph is looking for—yet. But he's about to prove that she has seriously underestimated her opponent…. 

Submission 

The moment Patrick has her deliciously pinned, Steph knows she's in deep, deep trouble. Because this seemingly mild carpenter has the mastery to give her exactly what she needs…and this is one takedown she's willing to take lying down!

Cek di GOODREADS  atau beli di BOOK DEPOSITORY


My Opinion
*kayaknya ini bakal ada spoiler. Waspadalah!

Perkenalkan, Steph Healy, seorang fighter perempuan yang sekarang mengajar di Wilinski Fight Academy. Berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah yang sempat mengalami masa-masa susah, Steph nggak pengen kehidupannya nanti harus susah seperti orangtuanya. Itu sebabnya dia memutuskan berhenti berkencan dengan para pria pekerja dengan ekonomi menengah yang pas-pasan. Dia ingin bisa hidup nyaman tanpa harus khawatir sama masalah keuangan. Steph memutuskan untuk bergabung di agen biro jodoh dan mulai berkencan dengan pria-pria yang mapan dan berpenghasilan baik. Matre? Nggak juga, mengingat dia punya alasan yang cukup realistis berdasarkan pengalamannya di masa lalu.

Di tengah-tengah resolusinya untuk nggak lagi terlibat hubungan dengan pria-pria biasa aja, masuklah Patrick dalam kehidupan Steph.  Patrick adalah seorang laki-laki pekerja keras. Sebetulnya dia adalah tukang kayu yang handal, tapi karena sepinya order dan dia harus bertahan hidup demi membayar tagihan-tagihan, dia bela-belain kerja apapun, termasuk menerima pekerjaan sebagai teknisi listrik dari sepupunya. Di Wilinski Fight Academy ini, Patrick dapet kerjaan untuk memasang alarm. Tapi emang dasar modal nekat, pekerjaan yang harusnya bisa selesai dalam beberapa jam, sukses membuat Patrick pusing sampai sekolahan mau tutup gara-gara instalasi di gedung yang rumit.

Pertemuan pertama mereka terkesan biasa saja. Bisa dibilang Steph cuma melihat Patrick sepintas lalu. Belum lagi karakter Patrick yang dibuat biasa banget dan agak ceroboh. Dia sukses bikin hidung dan tangan Steph berdarah, dalam dua kesempatan yang berbeda. Belum lagi gara-gara dia kesulitan dengan alarm yang baru dipasangnya, Patrick membuat Steph batal berangkat ke kencan buta pertamanya karena mereka terperangkap di dalam gedung. Sikap dan perilaku Patrick bikin Steph sebel dan gregetan. Tapi...

Di balik kecerobohannya, menurut saya Patrick adalah tipe cowok dan anak baik-baik yang manis, yang sadar dia punya kekurangan, tapi tetap nyaman dengan dirinya. Meskipun Steph jelas-jelas bilang nggak tertarik, dan meskipun Steph jelas-jelas sedang mengusahakan kencan dengan beberapa pria, dia tetap bersikap manis dan gigih berusaha. Makanya Waktu Steph dengan jujur bilang dia nggak pengen menjalin hubungan dengan pria yang secara ekonomi 'bermasalah' dan Patrick kecewa, saya jadi pengen meluk Patrick. :') 
Tentu, hot and sexy tetap menjadi nilai plus bagi Patrick karena sukses bikin Steph panas dingin. Jujur, ini bikin saya pengen nyengir karena ketika hendak membayangkan tokoh Patrick, saya ngebandingin tukang kayu/teknisi di cerita ini sama di kehidupan saya sehari-hari. Beda bangeeeet. Di sini Patrick digambarkan sebagai tukang kayu/teknisi yang seksi. :D Karena ini terbitan Harlequin kategori Blaze, hubungan Patrick dan Steph juga bikin saya panas dingin pas baca . 

Saya suka sama karakter Patrick yang tetap positif dalam situasi yang buat sebagian orang menyebalkan. Waktu mobilnya mogok di dekat apartemen Steph gara-gara ada bagian mobilnya yang patah, Patrick melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang baik karena itu membuat Patrick dapat kesempatan nginep di apartemennya Steph. Belum lagi dapet bantuan dari adiknya Steph yang ngerti mobil sehingga dia bisa dapet harga sparepart lebih murah. Lebih oke lagi, adeknya Steph langsung cocok sama Patrick.

Saya suka sama insight yang diberikan oleh kakak Steph waktu tau ketakutan Steph menjalin hubungan dengan Patrick gara-gara masalah keuangannya. Betapapun beratnya situasi ekonomi, ibu mereka tetap mendampingi sang ayah dan menjalani semuanya bersama. Plus, sebagai seorang fighter, bukankah dia tetap bertanding ketika tau dia akan kalah karena lawan tandingnya jelas-jelas berada di atas angin? 
Ini bikin Steph jadi sadar bahwa Patrick adalah tipe pria yang bertanggungjawab dan pekerja keras. Nggak peduli dia lagi kesusahan secara ekonomi, dia mau mengusahakan kerja apapun, termasuk demi mempertahankan rumah impiannya yang dia bangun dari keringat dan tenaga sendiri. Dia juga nggak mengeluh soal keadaannya. 

Hadeh, saya jadi makin cinta sama Patrick!

Buat yang lagi bosen sama novel roman ala Harlequin dengan karakter cowok yang apha-male, buat yang lagi bosen sama tokoh hero yang super duperly kaya alias milyarder, ini bisa jadi alternatif bacaan. Beda dengan novel lain, saya justru merasa di sini sosok Steph justru yang lebih alpha, lebih kuat dan dingin. Tapi justru di situlah mungkin karakternya jadi seimbang sama Patrick.
Selain itu, dengan adanya masalah dan situasi yang sedang dihadapi, karakter Patrick terasa lebih real dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. In a real life, kayaknya saya lebih butuh tipe beta ala Patrick ini. Nggak macem-macem, tetap bisa positif dan kuat, mau kerja keras dan nggak milih-milih, tenang, realistis, tapi ... tetap seksi, romantis, dan ... dominan di saat tertentu. Hihihihi...

Oia, saya baca ini tanpa ngeh kalo ini buku ketiga dari seri Wilinski. Jadi penasaran karena tokoh-tokoh utama di kedua novel sebelumnya muncul cukup banyak di novel ini.




Sunday, April 7, 2013

Review: Menaklukkan Hati Sang Marquis oleh Julia Quinn


Edisi: Paperback, 448 halaman
Tanggal Terbit: April 2011
Penerbit: Dastan Books 
ISBN139786028723794
Bahasa: Indonesian
Judul Asli: How to Marry a Marquis (diterbitkan pertama kali 9 Maret 1999)

Elizabeth Hotchkiss harus menikah secepatnya dengan seorang laki-laki kaya. Sebagai saudara perempuan tertua dengan tiga adik masih kecil, ia harus bekerja keras untuk membiayai kebutuhan keluarganya sejak kedua orangtuanya meninggal. Namun, kebutuhan mereka semakin lama semakin meningkat sehingga ia tidak tahu lagi harus mendapatkan uang dari mana. Elizabeth lalu memutuskan bahwa satu-satunya cara adalah menikah dengan bangsawan yang kaya.


Sementara itu James Sidwell alias Marquis of Riverdale, diminta datang oleh bibinya yang kebetulan merupakan majikan Elizabeth, untuk menyelidiki suatu kasus kekerasan. James datang dengan menyamar sebagai pengurus properti. Ia menerima undangan bibinya karena ingin melarikan diri dari gadis-gadis yang mengejarnya di London. Selama ini, James beranggapan tidak ada wanita yang mampu membuatnya tertarik. Namun, semua itu langsung berubah sejak pertama kali ia melihat Elizabeth. James langsung terpukau dengan kecantikan dan kebaikan hati Elizabeth sekaligus lidah Elizabeth yang tajam yang entah bagaimana sekaligus membuatnya terpikat. Di lain pihak, seumur hidupnya baru kali ini Elizabeth bertemu dengan seorang laki-laki setampan James. Setiap kali berdekatan dengan James, jantungnya selalu berdebar-debar. Namun, Elizabeth tidak bisa jatuh cinta pada James, karena James mengaku sebagai laki-laki miskin.



Setelah jati diri James yang sebenarnya terkuak, apakah Elizabeth masih mau menerima James yang sudah membuatnya merasa tertipu dan tersakiti dengan penyamaran pria itu selama ini? Dan apakah tekad James cukup kuat untuk meyakinkan Elizabeth agar mau menikah dengannya?


REVIEW SAYA:
Setelah sukses menyelesaikan buku pertamanya, saya langsung penasaran baca dan melanggar janji membacanya kalo udah berhasil menyelesaikan laporan. Duh!

Jadi cerita dimulai seperti sinopsis di atas, dan ini merupakan salah satu tema favorit saya, yaitu ketika di mana salah satu tokoh berpura-pura menjadi orang lain. :)
Karena sudah lama nggak baca buku-bukunya JQ, saya benar2x lupa siapa itu Lady Danburry yang namanya sangat familiar. Tentu saja saya mengenal William Dunford, nama itu juga familiar, meskipun saya nggak tau persis dia muncul di novel yang mana. Jangan-jangan saya udah baca tapi nggak inget?

Anyway, saya suka banget dengan ide buku merah itu. Bagaimana Susan, adik Elizabeth (alias Lizzie), dengan bijaksana meminta Lizzie untuk benar-benar memraktekkannya. Padahal dia baru umur 14 tahun. Yah, kemudian ceritapun mengalir, dan saya suka dengan interaksi antara James dan Lizzie. Lagi-lagi, dialog yang cerdas (dan cepat) antara tokoh-tokoh, termasuk tokoh tambahan selain Lizzie dan James membuat saya sempat keteteran mengikutinya.

Baca buku kedua tentang James dan Lizzie jauh lebih cepat dan dibandingkan buku tentang Caroline dan Blake. Saya jauuuuuuh lebih menyukai karakter Lizzie dibanding Caroline. 

Secara keseluruhan, saya suka dengan semua karakter di buku ini, kecuali ... Caroline. Duh, perasaan saya ke Caroline antara pengen ketawa dan sebel. Saya jadi merasa bisa merasakan kekesalan James waktu Caroline bolak-balik nyeletuk. Jadi sementara orang-orang merasa buku satu lebih seru (karena emang situasinya amat sangat ajaib dan konyol, ditambah karakter Caroline yang bebas lepas dan cenderung impulsif), saya justru lebih suka dengan pasangan James dan Elizabeth. Tapi bener sih, seperti kata temen-temen, kemunculan Blake dan Caroline di sini bikin suasana jadi lebih rame. 

Saya kagum banget sama tokoh Elizabeth yang sangat setia dan sayang pada adik-adiknya. Kagum pada usaha dan kepeduliannya. Keterbukaannya mengenai masalah keuangan terhadap adik-adiknya yang, untungnya, bisa ikut menyikapi dengan bijaksana. Di tengah situasi seperti itu, saya melihat Lizzie tetap tegar, tetap positif dan bisa membuat adik-adiknya juga tetap positif. Saya bisa mengerti kekesalan James ketika Elizabeth mempertahankan harga dirinya dan menolak wesel pemberiannya, meskipun itu mengorbankan kesejahteraan adik-adiknya. 

Saya kasih bintang 4 (meskipun saya punya feeling seandainya saya baca edisi asli bahasa Inggrisnya adalah sangat mungkin saya memberi bintang 5).



Review: Memikat Sang Pewaris dari Julia Quinn


Caroline Trent sejak kecil harus tinggal berpindah-pindah dengan wali yang berbeda. Wali terakhirnya adalah seorang laki-laki yang tamak sehingga Caroline memilih untuk melarikan diri pada suatu malam. Namun, ia tidak menduga kalau malam itu adalah malam yang mengubah hidupnya selamanya.

Blake Ravenscroft adalah agen pemerintah yang menyelidiki kasus mata-mata. Ia memiliki masa lalu yang kelam serta memendam rasa sakit akibat ditinggal orang yang dicintainya sehingga ia menutup hatinya dan tidak pernah berpikir untuk menikah, sampai ia bertemu Caroline. Awalnya, Blake menyangka Caroline adalah mata-mata Napoleon. Ia menculik Caroline dan mengikatnya di tempat tidur. Setelah identitas Caroline terungkap, Blake menyadari kalau hatinya mulai goyah melihat Caroline yang riang dan polos. Sementara itu, Caroline mulai menyadari kalau dirinya jatuh cinta kepada penculiknya.

Penyelidikan Blake yang berbahaya tidak menggoyahkan keputusan Caroline untuk ikut membantu. Dan ketika nyawa Caroline terancam tepat di hadapannya, Blake pun harus menghilangkan trauma masa lalunya dan menyelamatkan Caroline sebelum semuanya terlambat...

REVIEW SAYA

Ini salah satu buku yang hampir selalu dielu-elukan teman-teman saya yang suka banget sama novel historical romance. Sebagai penggemar seri The Bridgerton-nya Julia Quinn, saya percaya bahwa novel ini bagus. Dan kocak, yang menurut saya salah satu kelebihan Julia Quinn.

Saya beli novel ini di tahun 2011, nggak inget bulan apa. Yang jelas, baru saya baca di bulan April 2013 setelah plastik segelnya dibuka ibu saya yang sudah selesai membacanya terlebih dahulu. Dan beliau mengeluhkan adanya cetakan yang salah, yaitu halaman 193-200-nya nggak ada, dan justru tergantikan sama isi novelnya Eloisa James. Jadi, sebagai pembaca, kita dipaksa mengira-ngira ada kejadian apa di antara bab 11-12.

Di awal buku, saya yang sudah lama nggak baca novelnya JQ langsung bisa merasakan kekhasan JQ dalam menggambarkan tokoh yang unik dan terkesan seenaknya sendiri. Well, Caroline emang beda. Setidaknya dari standard orang-orang di jaman itu, tapi nggak beda sama heroine-heroine. :D Anyway, bahkan ketika dia berdebat mulut dengan Percy, saya langsung inget bahwa yang bikin saya suka sama novel2xnya JQ adalah dialognya yang segar dan terkesan cepat, tapi ringan.

Ketika akhirnya Caroline bertemu Blake, yah, saya agak merasa aneh. Maksudnya, mengingat Blake adalah agen rahasia, harusnya sih suasananya bisa lebih sedikit dark. Tapi berkat karakter Caroline, semua jadi berasa konyol yang membuat saya jadi mikir, mungkin nggak siiiiiih??? Tapi saya menikmati interaksi dan dialog di antara mereka. Dan suasana jadi lebih seru begitu James, sahabat dan rekan kerja Blake, muncul. Dan lebih meriah lagi waktu Penelope, kakak perempuan Blake, juga datang berkunjung. Belum lagi tingkah konyol Perrwick, salah satu pelayan Blake. Berasa nonton film komedi.

Tapi niiiih ... tidak seperti saat membaca seri Bridgerton, saya merasa ada yang kurang. Dan cerita mereka nggak seseru yang selama ini dipromosikan teman-teman. Menurut saya, ada beberapa faktor yang memengaruhi penilaian saya ini:
  1. Saya dalam masa sedang mengejar tenggat pengumpulan tugas, yang berarti saya baca secepat mungkin karena penasaran tapi disertai rasa bersalah karena menyisihkan waktu buat baca novel. :D
  2. Apakah karena ini terjemahan? Bukannya sok bisa baca buku bahasa Inggris, tapi seringkali ada cerita-cerita yang lebih dapat 'feel'-nya pas pake bahasa aslinya.
  3. Gara-gara ada insiden kesalahan penjilidan yang membuat saya kehilangan sebagian cerita.
Tapi terlepas dari itu, saya menikmati buku ini, dan banyak bagian yang bikin saya nyengir-nyengir sendiri. Adegan intimnya nggak terlalu banyak, tapi menurut saya malah bagus, jadi sesuai dengan kepolosan Caroline, dan membuat hubungan mereka terasa manis, kayak permen kapas. ^^

4 bintang. Dan setelah berhasil menyelesaikan 1 laporan (padahal keseluruhan masih ada 5 laporan dan 1 proposal yang harus dikerjakan), saya pengen baca lanjutannya yang tentang James. Tapi lihat saja nanti. 


Saturday, September 22, 2012

Double the Trouble: Texas! Trilogy by Sandra Brown

Texas! Trilogy by Sandra Brown

Tadaaaaa... Buat yang cukup dekat dan tahu selera saya, pasti tahu kalo saya suka bangeeeeeeet ... sama novel Texas! Chase, buku kedua dari seri Texas! ini. Saking sukanya saya punya beberapa versi (bisa lihat di postingan yang lalu). Tapi kalo cuma koleksi yang bagian Chase aja rasanya nggak nendang. Kasian Lucky sama Sage, ntar mereka iri. Jadilah saya koleksi ketiganya dalam dua versi cover.
Yang deretan atas versi terbaru, dan bawah versi lebih lama. Tapi herannya, cuma yang Texas! Chase yang ada insert picture (nggak akan saya post, agak gimana gitu posenya ... Hihihihi....), sementara Lucky dan Sage nggak ada insert picture-nya.
Tapi ya sudlah ya... ini akan jadi koleksi seumur hidup saya. ^^

Oia, saya belum punya versi trilogi ini yang 3in1 dalam satu buku. Nggak pernah nemu. Kira-kira, kalo ketemu, akankah saya membelinya? :)


Saturday, December 3, 2011

The Darkest Night - Sang Kekerasan

***
My very first of Gena Showalter! Didn't think I'd ever read her book. Karena sejujurnya saya nggak tertarik baca novel dengan genre paranormal atau fantasi. Entah sedang dikuasai Iblis apa ketika memutuskan untuk baca dan beli buku ini. Lords of Buying-Books? :))

Jadi ada sejumlah kesatria yang sengaja membuka kotak Pandora, tempat menyimpan iblis-iblis. Niatnya mereka cuma memberi pelajaran pada dewa-dewa yang justru memilih Pandora, kesatria wanita, untuk menjaga kotak itu. Apa daya begitu dibuka iblis-iblis itu langsung merasuki para kesatria. Maddox, yang dirasuki Iblis Kekerasan, membunuh Pandora.
Akibat ulah mereka, dewa-dewa mengutuk mereka menjadi wadah bagi para iblis. Setiap kesatria dapet jatah satu iblis, dan kalo si iblis dalam diri mereka udah menguasai, ya sudlah, mereka harus berjuang mengendalikan diri. Iblisnya macem-macem. Ada sang Kekerasan, Amarah, Rahasia, Wabah, Kesakitan, Keraguan, Kepedihan, Kebohongan, Bencana, Berahi ... apalagi ya?

Sejauh ini yang paling menarik minat si Kesakitan, Kepedihan, Kebohongan (kalo ngomong pasti kebalikan dengan yang dimaksud), Rahasia, Bencana (menurutku ini kocak, kasiaaaan). Dengan segala macem sifat Iblis ini, gak heran kalo serinya (bakal) banyak. Hadeeeeeh ... nggak terlalu suka banget nget, tapi penasaran pengen cerita tentang yang lain.
Jadi kepikiran, kalo untuk versi sekarang, ketika seseorang gak bisa nahan diri untuk online, bbm-an, belanja, dll, jangan2x itu mereka juga dikuasai sang Internet, sang BBM dan sang Shopaholic. Hmpfh!

Back to buku ini, saya nggak terlalu merasakan chemistry antara Maddox dan Ashlyn, semua berjalan terlalu cepat. Bahkan adegan intimnya berasa cuma jadi bumbu dan tempelan. Nggak penting2x banget. Kalopun chemistry mereka bisa saya rasakan, tanpa adegan intim itu sudah bisa bikin emosi pembaca sedikit naik turun di ending pas Ashlyn berkorban demi Maddox. Saya malah jadi lebih tertarik Danika dan Reeyes. :D

*Yang bikin penasaran: karena emang suka banget seri yang berkesinambungan yang ada hubungan (temen ato sodara, tapi tidak ortu-anak), saya penasaran ama seri-seri berikutnya. Masih menimbang2x untuk beli ato cumi. Hihihihihi...